kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

Peran DSI Memperkuat Visibilitas Perdagangan Dinilai Makin Strategis


Selasa, 01 September 2026 / 21:10 WIB
Peran DSI Memperkuat Visibilitas Perdagangan Dinilai Makin Strategis
ILUSTRASI. Kontan - DSI pressrelease.kontan.co.id (KONTAN/Ridwan.mulyana/Ridwan.mulyana)


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Integrasi data ekspor hingga tingkat transaksi yang mulai dibangun PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI dinilai berpotensi memperkuat kemampuan Indonesia dalam memahami alur perdagangan sekaligus mengoptimalkan nilai ekonomi komoditas strategisnya.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan, visibilitas perdagangan semakin penting di tengah tekanan terhadap kinerja ekspor dan meningkatnya ketidakpastian global.

Baca Juga: DSI Prioritaskan Pengawasan Ekspor CPO Hingga Batubara, Rosan: Akan Diperluas

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Juni 2026, neraca perdagangan kembali mencatat defisit sebesar US$450 juta.

Menurut Eddy, perkembangan tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi ekspor Indonesia. “Pada kuartal yang baru dirilis, neraca perdagangan kita bahkan sudah tidak surplus lagi. Artinya, perlu ada refleksi dan koreksi mengenai strategi ekspor di tengah kondisi ketidakpastian global,” ujar Eddy.

Dalam situasi tersebut, integrasi data yang dibangun DSI menjadi semakin relevan. Visibilitas transaksi tidak hanya mencakup nilai dan volume ekspor, tetapi juga keterhubungan informasi mengenai kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan, hingga penerimaan devisa.

“Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya,” kata Eddy, Selasa (1/9/2026).

Membaca Perdagangan hingga Tingkat Transaksi

Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$14 miliar dan volume melampaui 90 juta ton komoditas. Transaksi tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan.

Dengan mengintegrasikan data ekspor nasional dan referensi pasar global, DSI menghubungkan informasi mengenai harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, dan pasar tujuan. Integrasi tersebut memungkinkan negara memperoleh gambaran lebih utuh mengenai alur perdagangan dan nilai komoditas sepanjang rantai ekspor.

Analisis awal DSI bersama sejumlah badan usaha milik negara juga mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai sekitar US$5 miliar per tahun.

Eddy menilai integrasi data tersebut sangat bermanfaat sebagai dasar untuk memahami struktur perdagangan dan menyusun strategi yang lebih tepat. Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa visibilitas data belum otomatis meningkatkan kinerja ekspor.

“Visibilitas semata belum tentu dapat menggenjot ekspor. Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global,” katanya.

Menurut Eddy, penguatan perdagangan komoditas membutuhkan pembagian peran yang jelas. DSI menjalankan peran strategis melalui integrasi data dan penguatan visibilitas, sementara implementasi pada tingkat bisnis membutuhkan partisipasi aktif perusahaan eksportir.

“Visibilitas dan top-level strategy dari DSI pada akhirnya membutuhkan implementasi dan business-level strategy dari para eksportir,” ujarnya.

Direktur Utama DSI Luke Mahony menegaskan fokus DSI saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk menjalankan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor,” ujar Luke dalam keterangan resminya, Senin (24/8) lalu.

Menurut Eddy, kombinasi antara visibilitas yang dibangun DSI dan peningkatan daya saing oleh eksportir berpotensi memperbaiki kinerja perdagangan, memperkuat devisa hasil ekspor, dan memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian nasional. “Peran DSI sangat strategis, tetapi implementasinya tetap memerlukan partisipasi aktif perusahaan-perusahaan eksportir,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×