kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Penyebab pengembangan riset di Indonesia tertinggal jauh dari negara lain


Kamis, 30 Januari 2020 / 18:17 WIB
ILUSTRASI. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro (kanan) melihat aplikasi Qiroah cara belajar membaca Alquran karya lulusan Apple Academy saat mengunjungi Apple Developer Academy di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, Selas


Reporter: Abdul Basith | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan lembaga riset Indonesia masih tertinggal.

Hal itu terlihat dari dari indeks inovasi global sebesar 29,72 dari skala 0 hingga 100. Berdasarkan angka itu Indonesia hanya bertengger di posisi 85 dalam hal inovasi. "Kapasitas inovasi Indonesia masih rendah. Indonesia peringkat 85 dari 129 negara," ujar Bambang saat pembukaan rapat kerja nasional Kemristek/BRIN, Kamis (30/1).

Baca Juga: Konsolidasikan anggaran, ada dana Rp 27,1 triliun siap digunakan Badan Riset Nasional

Hal itu disebabkan oleh berbagai masalah yang dihadapi Indonesia. Antara lain dana penelitian dan pengembangan yang masih rendah sekitar 0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut mayoritas masih berasal dari pemerintah. Sebesar 84% anggaran litbang berasal dari pemerintah sementara porsi swasta hanya sebesar 8%. Selain itu anggaran pemerintah pun tersebar di sejumlah unit. Sehingga memungkinkan terjadinya duplikasi dalam penelitian sehingga terjadi inefisiensi.

Baca Juga: Makroekonomi Indonesia Stagnan, Rating Utang Tak Mudah Kian Membaik

Bambang juga mengungkapkan bahwa jumlah paten dan publikasi sains dan teknologi di tingkat global masih rendah. Hal itu didorong oleh infrastruktur litbang yang masih terbatas. "Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang Iptek hanya sekitar 14,08% yang berkualifikasi doktor atau S3," terang Bambang.

Ekosistem inovasi juga diungkapkan masih belum tercipta sehingga menghambat hilirisasi dan komersialisasi penelitian. Kolaborasi penelitian, pemerintah, dan dunia usah harus dibangun dan ditingkatkan kapasitasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×