kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.899   23,00   0,14%
  • IDX 9.047   14,25   0,16%
  • KOMPAS100 1.252   3,95   0,32%
  • LQ45 887   5,04   0,57%
  • ISSI 329   -0,65   -0,20%
  • IDX30 452   2,81   0,63%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 139   0,42   0,30%
  • IDXV30 147   0,53   0,36%
  • IDXQ30 145   1,13   0,79%

Pengungsi Bangladesh-Myanmar perlu makanan & obat


Senin, 18 Mei 2015 / 06:05 WIB
Pengungsi Bangladesh-Myanmar perlu makanan & obat
ILUSTRASI. 6 Tips Baju Bebas Bau Apek Selama Musim Hujan.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Tidak berbeda dibandingkan kondisi imigran di Aceh, imigran yang diselamatkan nelayan Langkat, Sumatera Utara kondisinya memprihatinkan.

"Saat ini para imigran asal Bangladesh dan Myanmar memang sangat membutuhkan makanan seperti beras, susu, minuman dan obat-obatan," kata Direktur Disaster Management Cente (DMC) Dompet Dhuafa, Asep Beny kepada Tribunnews, Minggu (17/5/2015) malam.

Mereka juga mengalami gangguan kesehatan mulai sesak nafas dan daya tahan tubuh melemah. Saat ini mereka berada di posko pengungsian gedung serba guna Kecamatan Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara.

Dompet Dhuafa telah memberikan bantuan logistik berupa makanan dan obat-obatan. "Kami juga membuat dan pemenuhan kebutuhan dapur umum,” katanya.
Mengingat ada puluhan anak-anak, mereka menghibur melalui sekolah ceria sehingga mampu melupakan berbagai kesulitan yang dialami.

Warga Myanmar yang mengungsi adalah masyarakat etnis Rohingya yang harus kabur dan mencari suaka dari negara lainnya lantaran pemerintah Junta Militer Myanmar tidak ingin mereka eksis. Sementara warga Bangladesh meninggalkan negara itu karena masalah politik di sana.

Vice President South East Asia Humanitarian Committee, Sabeth Abilawa menyatakan, penindasan atas etnis Rohingya ini sudah terjadi sejak tahun 2012.
"Sejak saat itu, etnis Rohingya tersebar ke berbagai negara untuk mengungsi bahkan melewati lautan yang ganas menggunakan perahu seadanya seperti ke Indonesia," katanya. (Eko Sutriyanto)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×