kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Pengunduran pembatasan BBM berpotensi inflasi


Kamis, 16 Desember 2010 / 08:05 WIB


Reporter: Bambang Rakhmanto | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Pengunduran pembatasan BBM di 2011 diprediksi akan memicu inflasi oleh beberapa pengamat salah satunya pengamat dari Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko menuturkan pengunduran itu akan memicu inflasi tetapi tidak akan terasa di semester awal.

"Inflasi akan naik justru akan terjadi pada semester kedua karena pada di paruh kedua itu diperkirakan ekonomi global akan bergejolak, seperti di Amerika dan Eropa," terangnya.

Mengenai prediksinya terhadap angka inflasi dari dampak pembatasan BBM Prasetyantoko tidak mau berkomentar banyak. Tapi yang perlu dikhawatirkan dalam pembatasan BBM adalah efek psikologis masyarakat karena dari dampak itu dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi.

Sementara itu Ekonom Bank Mandiri Doddy Ariefianto mengatakan, laju inflasi pada 2011 sendiri memang sangat berpotensi untuk melampaui asumsi 5,3 persen. “Tekanan dari administered price sepertinya tidak tertahankan. Dengan anggaran subsidi yang turun, konsekuensinya adalah kenaikan harga,” katanya.

Selain administered price, lanjut Doddy, tekanan inflasi juga akan datang dari tren kenaikan harga komoditi di pasar internasional. “Anomali iklim sepertinya belum jelas kapan akan mereda,” ujarnya.

Kenaikan harga di tingkat internasional, tambah Doddy, tentu akan berpengaruh terhadap harga di dalam negeri. “Dalam pembobotan inflasi, kelompok makanan menyumbang 25-30 persen. Perubahan harga tentunya akan sangat mempengaruhi inflasi,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, menurut Doddy, laju inflasi 2011 diperkirakan dalam kisaran 6,5 - 7 persen. “Up side risk sangat besar, potensi untuk menembus batas atas begitu terbuka,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×