kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.027   143,10   2,43%
  • KOMPAS100 783   19,06   2,50%
  • LQ45 592   13,80   2,39%
  • ISSI 209   5,22   2,56%
  • IDX30 335   8,24   2,52%
  • IDXHIDIV20 411   8,76   2,18%
  • IDX80 89   2,11   2,44%
  • IDXV30 111   2,60   2,39%
  • IDXQ30 108   2,69   2,56%

Pengamat Sebut Harga Ideal Gas Industri dari Reservoir Seharusnya US$ 10,5 per MMBTU


Kamis, 25 Juni 2026 / 14:44 WIB
Pengamat Sebut Harga Ideal Gas Industri dari Reservoir Seharusnya US$ 10,5 per MMBTU
ILUSTRASI. Kilang Gas PT Badak Natural Gas Liquefaction (NGL)di Bontang (KONTAN/Herlina Kartika)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menyoroti lonjakan harga gas industri di dalam negeri yang belakangan ini dikabarkan melambung signifikan hingga menyentuh US$ 20 per MMBTU. 

Kenaikan harga komoditas energi tersebut berpotensi menaikkan biaya operasional manufaktur secara drastis serta mengancam kelangsungan bisnis para pelaku usaha di tanah air.

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo mengungkapkan, melambungnya harga gas di tingkat konsumen terjadi bukan karena minimnya pasokan sumber daya domestik. Menurutnya, ini terletak pada keterlambatan pemerintah dalam mengintegrasikan fasilitas penunjang.

"Harga gas menjadi tinggi bukan karena kita tidak mempunyai gas, tetapi karena kita telat membangun infrastruktur gas yang masif dan agresif," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Nasib Proyek Gas Raksasa Masela Ditentukan Regulasi Pemerintah

Hadi mengungkapkan, keterlambatan mencakup pembangunan fasilitas regas LNG terminal FSRU yang terkoneksi jaringan pipa transmisi dan distribusi serta virtual pipeline berupa CNG. 

Padahal, Indonesia memiliki sumber gas melimpah di Tangguh, Kasuri, Bontang, hingga Donggi Senoro, disusul potensi LNG dari Masela dan Andaman. 

"Selama ini Pemerintah membangun industri berbasis minyak dan kurang menaruh perhatian serius untuk membangun industri berbasis gas," jelasnya.

Imbasnya, lanjut dia, pembangunan infrastruktur tidak berkembang pesat saat banyak industri beralih ke gas akibat kenaikan harga minyak dunia, sehingga memicu lonjakan permintaan yang tidak sebanding dengan pasokan. 

Baca Juga: PHE Bukukan Produksi 1 Juta BOEPD pada 2025, Kontribusi Minyak Capai 557 Ribu Barel

Berdasarkan perhitungannya, jika gas industri murni berasal dari reservoir gas di Pulau Jawa, formula harga semestinya berada jauh di bawah tarif pasar yang saat ini sedang bergejolak. "Maka sewajarnya harga gas industri dari reservoir gas adalah US$ 10,5/MMBTU," kata Hadi.

Angka ideal sebesar US$ 10,5 per MMBTU tersebut diperoleh dari asumsi rata-rata harga gas di tingkat hulu (wellhead) sebesar US$ 9 per MMBTU, ditambah biaya sewa pipa (tol fee) sebesar US$ 1 per MMBTU, serta biaya distribusi senilai US$ 0,5 per MMBTU. 

Lebih lanjut, Hadi menambahkan, tanpa adanya intervensi harga yang wajar, tekanan beban energi dipastikan bakal langsung merembet pada kinerja keuangan sektor industri manufaktur nasional.

"Dampaknya tentu akan menghantam industri yang berbasis gas, opex semakin tinggi, otomatis margin akan semakin tipis bahkan mungkin minus," pungkasnya.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Ekonom Minta Pemerintah Perbarui Asumsi Makro APBN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×