kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.922   52,00   0,29%
  • IDX 5.680   -141,04   -2,42%
  • KOMPAS100 733   -19,02   -2,53%
  • LQ45 559   -13,71   -2,39%
  • ISSI 197   -4,23   -2,10%
  • IDX30 318   -7,23   -2,22%
  • IDXHIDIV20 392   -8,58   -2,14%
  • IDX80 83   -2,13   -2,50%
  • IDXV30 106   -1,93   -1,78%
  • IDXQ30 103   -2,20   -2,10%

Pengamat dukung ekstensifikasi cukai untuk kendalikan konsumsi


Senin, 24 Februari 2020 / 13:35 WIB
ILUSTRASI. Karyawan melintas di depan lemari pendingin minuman kemasan di salah satu gerai Alfamart di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (20/2/2020). Pengamat dukung ekstensifikasi cukai untuk kendalikan konsumsi. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama.


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

Yustinus mencontohkan, pengenaan cukai plastik kantong, bagaimana desain kebijakan supaya mendorong penurunan konsumsi dan perubahan perilaku. "Faktanya plastik masih paling efisien, affordable, dan efisien administrasinya," terang dia.

Terkait rencana pengenaan cukai minuman, pihaknya mewanti-wanti agar pemerintah perlu hati-hati. Pasalnya, harus ada batasan minuman apa saja yang perlu dikecualikan.

Baca Juga: Ada cukai plastik kresek, Panca Budi (PBID) andalkan plastik food grade

Yustinus menegaskan, tidak semua yang berpemanis bisa dikelompokkan dalam satu keranjang. Misalnya, ambang batas pemanis yang diperbolehkan berapa? yang di bawah itu tentu aman sehingga seharusnya tak dikenakan.

"Lalu minuman seperti jamu, minuman kesehatan, susu, itu semua harus jelas ambang batasnya," tukas dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×