Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Dalam enam tahun terakhir, jumlah kelas menengah tercatat turun hingga sekitar 10 juta orang dan bergeser ke kelompok rentan atau aspiring middle class yang lebih sensitif terhadap tekanan harga kebutuhan pokok seperti pangan dan energi.
“Ini statusnya kelas menengah, tapi kalau harga beras naik, rentan jatuh ke vulnerable,” ujar Andry.
Perubahan struktur sosial ekonomi ini berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat. Ketika daya beli melemah, transaksi rumah tangga ikut menurun dan berdampak pada turunnya potensi penerimaan PPN.
Baca Juga: Sejumlah Tantangan Ditjen Pajak dalam Mengerek Penerimaan Pajak
Sementara itu, kontribusi kelompok berpenghasilan tinggi terhadap basis pajak dinilai terbatas. Populasi kelas menengah atas dan kelompok kaya di Indonesia jumlahnya kurang dari 5% dari total penduduk, sehingga ruang penguatan penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) juga relatif sempit.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat prospek penerimaan pajak pada kuartal II dan III 2026 diperkirakan tidak sekuat awal tahun, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi potensi perlambatan dengan penguatan basis pajak dan peningkatan kepatuhan wajib pajak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Andry Asmoro
- pajak penghasilan (PPh)
- daya beli masyarakat
- pajak pertambahan nilai (PPN)
- Stimulus Fiskal
- Kelas Menengah Indonesia
- Inflasi Indonesia
- Penerimaan Pajak Indonesia
- Tekanan pajak 2026
- Ekonomi Indonesia Q2 2026
- Prediksi pajak Bank Mandiri
- Biaya produksi naik
- Prospek penerimaan negara
- Antisipasi pajak pemerintah
- Ketidakpastian global ekonomi












