kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Pemerintah Sudah Tarik Utang Baru Sebesar Rp 386 Triliun Hingga Mei 2026


Jumat, 05 Juni 2026 / 19:12 WIB
Pemerintah Sudah Tarik Utang Baru Sebesar Rp 386 Triliun Hingga Mei 2026
ILUSTRASI. Ilustrasi Opini - Membaca Arah Utang Indonesia (KONTAN/Indra Surya)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp 386 triliun hingga Mei 2026 atau setara 46,4% dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026. Realisasi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 351 triliun pada Mei 2025.

Untuk diketahui, penarikan utang baru ini mayoritas dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). 

Selain itu, Kementerian Keuangan juga mencatat, pembiayaan non utang hingga akhir Mei 2026 sebesar Rp 6,5 triliun. Dengan demikian, total realisasi pembiayaan APBN mencapai Rp 379,4 triliun atau 55,1% dari pagu yang ditetapkan tahun ini.

Baca Juga: Kebutuhan Ahli Pajak Meningkat, Kopijatigota Siapkan Talenta Muda

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan proses pembiayaan anggaran berjalan normal meskipun pasar keuangan global masih diwarnai ketidakpastian dan volatilitas.

"Pembiayaan berlangsung normal karena keseimbangan primer kita masih surplus Rp 58,6 triliun. Sampai sekarang pembiayaan anggaran mencapai Rp 379,4 triliun," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juni, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, tingginya minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga.

Purbaya menjelaskan, meskipun pasar global sempat mengalami gejolak, kondisi pasar obligasi domestik relatif stabil. Hal tersebut tercermin dari pergerakan imbal hasil SUN tenor 10 tahun yang cenderung datar dalam beberapa bulan terakhir.

"Yang penting Anda lihat, pasar kan gonjang-ganjing, tetapi penggemar SUN kita masih cukup banyak dan tidak ada kehilangan kepercayaan kepada surat utang negara kita," katanya.

Ia mencatat, yield SUN tenor 10 tahun berdenominasi rupiah bergerak relatif stabil dari level 6,67% pada Mei menjadi sekitar 6,8% pada awal Juni 2026. Selain itu, spread obligasi pemerintah Indonesia terhadap instrumen acuan global juga tidak mengalami perubahan signifikan.

Baca Juga: Purbaya Targetkan Penerimaan Pajak Tumbuh 20,5% Sepanjang 2026

"Kalau kita lihat yield SUN 10 tahun itu dari Mei sampai Juni cenderung flat. Sekarang naik sedikit ke 6,8%, tetapi relatif stabil. Jadi stabilitas pasar obligasi kita tetap terjaga," ujarnya.

Kepercayaan investor juga tercermin dari hasil lelang surat utang pemerintah. Hingga Mei 2026, rasio penawaran masuk terhadap jumlah yang dimenangkan (bid to cover ratio) pada lelang SUN tercatat sekitar 1,8 kali, sedangkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,6 kali.

Menurut Purbaya, tingginya minat investor pada instrumen surat utang pemerintah menunjukkan keyakinan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

"Investor obligasi biasanya investor jangka panjang. Kalau mereka masih masuk dan bid to cover ratio tetap baik, artinya investor pasar modal masih cukup percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×