kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 0   0   %

Penerimaan Bea dan Cukai Kembali Tumbuh, Ekonom Sebut Industri Rokok Mulai Pulih


Senin, 08 Juni 2026 / 17:23 WIB
Penerimaan Bea dan Cukai Kembali Tumbuh, Ekonom Sebut Industri Rokok Mulai Pulih
ILUSTRASI. Pengungkapan kasus pita cukai ilegal di Jawa Tengah (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)

Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja penerimaan kepabeanan dan cukai mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat mengalami tekanan pada awal tahun.

Hingga Mei 2026, penerimaan dari sektor tersebut tercatat tumbuh positif, didorong oleh membaiknya penerimaan cukai hasil tembakau serta aktivitas perdagangan internasional.

Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 123,8 triliun hingga Mei 2026 atau tumbuh 0,7% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 122,9 triliun.

Baca Juga: Dilantik Presiden Prabowo, Said Iqbal Pegang Jabatan Kunci Buruh

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal positif setelah beberapa bulan sebelumnya penerimaan kepabeanan dan cukai masih berada dalam tren kontraksi.

"Bea cukai naik 0,7%, sudah positif dua bulan berturut-turut. Nanti akan naik lagi lebih bagus," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Jumat (5/6).

Menanggapi hal tersebut, Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai perbaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian, terutama setelah pada tiga bulan pertama tahun ini penerimaan kepabeanan dan cukai masih mengalami kontraksi.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, secara akumulatif penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari masih terkontraksi 14%, Februari minus 14,7%, dan Maret minus 12,6%. 

Namun, kondisi mulai membaik pada April dengan pertumbuhan 0,6% dan meningkat menjadi 0,7% pada Mei.

Myrdal mengatakan pemulihan tersebut mengindikasikan membaiknya pengumpulan cukai hasil tembakau. Menurut dia, konsumsi rokok legal berpotensi kembali meningkat seiring semakin masifnya upaya pemerintah dalam memberantas peredaran rokok ilegal.

"Kita lihat konsumsi rokok kemungkinan kembali meningkat, terutama rokok yang legal. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memberantas bisnis rokok ilegal," kata Myrdal kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Prabowo Resmi Lantik Nanik Jadi Kepala BGN

Ia menambahkan keberhasilan pemerintah menekan peredaran rokok ilegal juga memberikan kepastian usaha bagi industri hasil tembakau yang legal.

Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menunjukkan pengawasan terhadap rokok ilegal semakin intensif. Hingga Mei 2026, penindakan terhadap rokok ilegal mencapai 6.880 kali atau meningkat 12,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Jumlah rokok ilegal yang diamankan melonjak 128,2% menjadi 865 juta batang dari sebelumnya 379 juta batang.

Dari sisi penerimaan, cukai masih menjadi kontributor terbesar dengan realisasi Rp 90,4 triliun hingga Mei 2026, naik tipis 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp90,3 triliun.

Sementara itu, penerimaan bea masuk mencatat pertumbuhan paling tinggi. Hingga akhir Mei 2026, realisasinya mencapai Rp 21,5 triliun atau naik 9,7% dibandingkan Rp 19,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Myrdal, peningkatan bea masuk mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi domestik yang mendorong kebutuhan impor, sekaligus didukung berbagai perjanjian perdagangan bebas alias free trade agreement (FTA) yang dijalankan pemerintah.

"Bea masuk terbantu oleh aktivitas free trade agreement oleh beberapa pihak ya oleh pemerintah kita sehingga membuat bea masuk kita meningkat. Selain juga ada kebutuhan domestik untuk melakukan impor," katanya. 

Kementerian Keuangan mencatat pertumbuhan bea masuk terutama didorong oleh peningkatan impor bahan baku dan bahan penolong yang tumbuh 10,67%.

Baca Juga: Merapat ke Istana, Said Iqbal Bakal Dilantik Jadi Penasehat Khusus Presiden

Adapun penerimaan bea keluar mencapai Rp 11,9 triliun hingga Mei 2026, masih terkontraksi 8,9% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 13 triliun. 

Meski demikian, kontraksi tersebut mulai mereda sejalan dengan penguatan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sepanjang Maret hingga Mei.

Myrdal menilai kinerja bea keluar juga mendapat dukungan dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor yang memberikan tambahan penerimaan bagi negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×