kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   0,00   0,00%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Pemerintah Tutup Celah Akal-akalan Status Wajib Pajak


Senin, 22 Desember 2025 / 21:10 WIB
Pemerintah Tutup Celah Akal-akalan Status Wajib Pajak
ILUSTRASI. Pajak, PPh21 (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23/PJ/2025 sebagai aturan turunan yang memperjelas ketentuan subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh). Kebijakan ini dinilai tidak sekadar bersifat administratif, tetapi strategis dalam menjawab tantangan perpajakan lintas yurisdiksi.

Pengamat Pajak Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Bawono Kristiaji menilai kehadiran PER-23/PJ/2025 pada dasarnya merupakan pembaruan sekaligus penyelarasan dengan perubahan Pasal 2 UU PPh sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Peraturan ini kemudian menjabarkan ketentuan subjek pajak secara lebih teknis dan operasional. "Kehadiran PER-23 ini menurut saya bukan hanya soal pembaruan dan penyelarasan dengan UU. Setidaknya ada 3 hal," kata Bawono kepada Kontan, Senin (22/12/2025).

Baca Juga: Harga Pangan Jelang Nataru 2025: Mayoritas Turun Signifikan

Pertama, regulasi ini sangat relevan dengan meningkatnya mobilitas dan aktivitas lintas negara, baik yang dilakukan oleh orang pribadi maupun badan usaha.

Dalam kondisi tersebut, kepastian mengenai kriteria kapan seseorang atau entitas dikategorikan sebagai Subjek Pajak Dalam Negeri (SPDN) atau Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN) menjadi krusial.

Menurut Bawono, kepastian status subjek pajak tersebut akan menentukan hak pemajakan Indonesia, termasuk jenis pajak apa saja yang dapat dipungut.

Kedua, PER-23/PJ/2025 juga dinilai relevan dengan upaya pemerintah dalam melawan praktik penghindaran pajak.

Bawono menyebut praktik seperti treaty shopping, penghindaran status Bentuk Usaha Tetap (BUT), hingga pergeseran pola kerja akibat perkembangan teknologi.

"Beleid tersebut juga kian relevan dengan perkembangan model bisnis yang kian memungkinkan seseorang untuk bekerja dari remote area, seperti halnya digital nomad," jelas dia.

Baca Juga: Update BNPB, Korban Meninggal Bencana Sumatera Bertambah Menjadi 1.106 Orang

Ketiga, Bawono menilai adanya pengaturan klausul berjenjang dalam PER-23/PJ/2025 mencerminkan adopsi spirit tie breaker rule.

Mekanisme ini berfungsi sebagai panduan untuk menyelesaikan permasalahan ketika suatu subjek pajak berpotensi diklaim sebagai SPDN oleh lebih dari satu negara.

Dengan pendekatan tersebut, ia menilai PER-23/PJ/2025 telah sejalan dengan praktik internasional yang umumnya tercermin dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×