kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Pemerintah Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Curah Hujan Ekstrem


Rabu, 05 November 2025 / 15:05 WIB
Pemerintah Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Curah Hujan Ekstrem
ILUSTRASI. Pemerintah telah menyiapkan opsi penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menghadapi potensi curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah.. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang musim penghujan dan periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggelar apel kesiapsiagaan nasional.

Langkah ini bertujuan memastikan infrastruktur publik dalam kondisi optimal serta menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat selama masa puncak mobilitas akhir tahun.

Pemerintah juga telah menyiapkan opsi penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menghadapi potensi curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah.

Baca Juga: BMKG Prediksi Suhu Panas hingga Awal November 2025: Tips & Info

Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam keterangan resmi pada Selasa (4/11/2025), menekankan pentingnya tiga pilar utama dalam menghadapi periode siaga ini.

Pilar Infrastruktur dan Keselamatan Publik

Pilar pertama difokuskan pada kesiapan infrastruktur dan keselamatan masyarakat. Pemerintah memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh bendungan, sungai, drainase, jembatan, hingga jalan nasional.

"Cek volume waduk, pintu pelimpah, dan pastikan tidak ada sumbatan. Semua fasilitas jalan, bahu, dan rest area harus siap sebelum puncak Nataru. Jika diperlukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) akan dikerahkan untuk mengantisipasi curah hujan ekstrem," ujarnya.

Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh fasilitas publik berfungsi optimal dalam menghadapi lonjakan arus kendaraan dan potensi bencana hidrometeorologi.

Pilar Komando Terpadu dan Teknologi Respon Cepat

Pilar kedua berfokus pada penguatan koordinasi lintas lembaga dan penggunaan teknologi informasi dalam penanganan cepat di lapangan.

Dody menegaskan pentingnya satu komando terpadu dari tingkat pusat hingga daerah agar setiap tindakan tanggap darurat dapat berjalan efisien.

"Kecepatan data berarti kecepatan aksi. Gunakan pemetaan risiko berbasis teknologi dan laporan real-time untuk setiap situasi darurat,” ungkapnya.

Baca Juga: BMKG: Peluang La Nina di Indonesia Capai 70 Persen

Ia menambahkan, kolaborasi dengan BNPB, BMKG, serta TNI-Polri menjadi kunci utama dalam efektivitas respon terhadap kondisi darurat di lapangan.

Pilar Pelayanan Publik yang Manusiawi dan Berkelanjutan

Pilar ketiga menitikberatkan pada pelayanan publik yang ramah, inklusif, dan berkelanjutan.

Kementerian PU akan menyiapkan Posko Siaga Nataru di berbagai titik strategis dengan fasilitas pendukung yang memadai, seperti toilet bersih, rest area yang nyaman, dan layanan kesehatan bagi masyarakat.

"Setiap jalan yang mantap, setiap sungai yang mengalir lancar, dan setiap posko yang ramah di sanalah negara hadir," pungkas Dody.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×