kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Pembahasan RUU Mata Uang kembali ditunda


Rabu, 18 Mei 2011 / 13:53 WIB
ILUSTRASI. Warga memakai masker pelindung menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah pusat perbelanjaan di Hong Kong, China, Senin (20/7/2020). REUTERS/Lam Yik


Reporter: Dwi Nur Oktaviani | Editor: Edy Can


JAKARTA. Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Mata Uang kembali ditunda hingga pekan depan. Penundaan ini karena ada perbedaan pendapat antara pemerintah dengan DPR terkait waktu penggunaan tanda tangan pemerintah.

Selain itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis mengatakan, DPR dan pemerintah berbeda pendapat tentang penyederhanaan nilai mata uang (redenominasi). Harry mengatakan, pemerintah meminta masalah redenominasi dibuat undang-undang tersendiri.

Menurutnya, sebenarnya DPR sudah setuju dengan hal tersebut. Namun, anggota DPR lainnya rupanya tidak sepakat. Anggota DPR Nusron Wahid mengatakan masalah redenominasi yang tercantum dalam pasal 13 ayat 2 tidak bisa dihilangkan.

Nusron menuntut pasal tersebut beserta penjelasannya dicantumkan dalam RUU Mata Uang. Ditambahkan saja. Sebelum ada UU itu, redominasi harus mendapat persetujuan dari DPR RI. Di mana BI sebelum membuat redominasi harus melakukan kordinasikan ke pemerintah lalu ke DPR," kata Nusron.

Namun, pemerintah tidak setuju dengan usul tersebut. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, masalah redenominasi itu sudah selesai.

Harry sebagai pimpinan rapat akhirnya mengusulkan, masalah redenominasi ini dibahas pekan depan. "Saya usul tetap dua poin, redominasi dan transisi ditunda minggu depan," ujar Harry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×