kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Pelonggaran PPKM dinilai memberi efek berbeda untuk sektor ekonomi tumpuan


Senin, 01 November 2021 / 21:08 WIB
ILUSTRASI. Truk peti kemas melintas di kawasan IPC Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/10/2021). Pelonggaran PPKM dinilai memberi efek berbeda untuk sektor ekonomi tumpuan.


Reporter: Achmad Jatnika | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dinilai akan memberikan efek yang berbeda untuk sektor ekonomi tumpuan, karena pola pemulihannya juga yang relatif berbeda.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy memberikan contoh mengenai hal tersebut, misalnya sektor perdagangan yang tumbuh seiring dengan dilonggarkannya kegiatan masyarakat di kuartal II/2021 dan adanya insentif PPnBM. 

Sedangkan di kuartal I/2021, adanya pelonggaran yang tidak dibarengi dengan insentif, membuat sektor perdagangan masih berada di zona pertumbuhan yang negatif. 

“Untuk sektor perdagangan, pelonggaran PPKM tidaklah cukup karena tetap harus didorong oleh insentif dan kebijakan tambahan dari pemerintah,” jelas Yusuf kepada Kontan, Senin (1/11).

Baca Juga: PPKM darurat bikin kinerja reksadana kurang optimal sepanjang tahun ini

Sementara di kuartal III/2021, ia menilai, seiring dengan adanya pembatasan yang kembali dijalankan oleh pemerintah, sektor perdagangan berpeluang kembali tertahan pertumbuhannya. 

Untuk sektor tumpuan lain, seperti sektor industri pengolahan, Yusuf menuturkan, meskipun secara umum pertumbuhannya sudah membaik, tetapi beberapa sub-sektor di kuartal II/2021 masih berada di zona pertumbuhan negatif. 

Akan tetapi, di beberapa sub-sektor industri pengolahan seperti makanan dan minuman yang masih diperbolehkan beroperasi, dalam penilaiannya pemberlakuan PPKM seharusnya tidak begitu memukul sub-sektor ini.

“Hanya, sekali tertekannya daya beli pada kuartal III/2021 berpotensi menekan permintaan barang dari beberapa pos dari industri pengolahan,” jelas Yusuf. 

Baca Juga: Pengusaha industri pengolahan optimistis kinerja manufaktur terus membaik




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×