Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Di sisi lain, impor justru meningkat karena Indonesia dinilai belum memiliki cukup alternatif produk dalam negeri untuk menahan laju impor.
Selain itu, Wijayanto juga menyoroti terjadinya arus keluar investasi portofolio atau net outflow dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN), dan saham.
Ia menilai penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga mengalami penurunan jika mengacu pada data Bank Indonesia.
“Di saat yang sama, pembayaran dividen dan bunga utang ke luar negeri juga meningkat sehingga ikut memberi tekanan terhadap rupiah,” katanya.
Tak hanya itu, ia menilai kondisi fiskal Indonesia juga menghadapi kerentanan akibat potensi defisit anggaran yang melebar karena tingginya belanja untuk program-program strategis pemerintah.
Potensi lonjakan subsidi energi juga disebut menjadi salah satu risiko tambahan.
Wijayanto turut menyinggung sentimen negatif dari tinjauan indeks oleh MSCI yang dinilai memicu arus keluar dana asing dari pasar saham. Hal tersebut, menurutnya, tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan potensi penurunan outlook Indonesia oleh S&P Global Ratings.
Ia mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat. Harga energi dan produk yang berkaitan dengan minyak diperkirakan meningkat, sementara barang impor akan menjadi lebih mahal akibat depresiasi rupiah.
“Fenomena ini biasa disebut imported inflation,” ujarnya.
Menurut Wijayanto, kondisi tersebut juga semakin berat karena daya beli masyarakat dinilai masih terus melemah hingga Mei 2026.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, ia menilai Bank Indonesia perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate, meski kebijakan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Dalam situasi seperti ini, pemerintah sebaiknya tidak terlalu memaksakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kualitas pertumbuhan jauh lebih penting, yakni pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan tidak terlalu mengorbankan stabilitas fiskal,” kata Wijayanto.
Tabel Ringkasan Faktor Pelemahan Rupiah
| Faktor Penyebab Rupiah Melemah | Penjelasan | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Defisit fiskal melebar | Defisit 2025 mendekati 3% dan diperkirakan berlanjut 2026 | Investor khawatir, rupiah makin tertekan |
| Capital outflow | Dana asing keluar dari pasar Indonesia | Permintaan dolar naik, rupiah melemah |
| Neraca pembayaran tertekan | Surplus perdagangan turun, impor naik | Rupiah kehilangan penopang eksternal |
| Penurunan ekspor | Harga komoditas turun & permintaan global melemah | Devisa menurun |
| Net outflow dari pasar saham & obligasi | Dana keluar dari SBN dan IHSG | Tekanan kurs & pasar keuangan |
| Penurunan FDI | Investasi langsung asing melemah | Cadangan devisa dan ekonomi melambat |
| Pembayaran dividen & bunga utang | Arus dolar keluar negeri meningkat | Tekanan tambahan pada rupiah |
| Risiko subsidi energi | Beban fiskal bisa naik | Defisit melebar, sentimen negatif |
| Sentimen MSCI & risiko rating | Tinjauan indeks dan potensi penurunan outlook | Modal asing makin keluar |
Definisi Inported Inflation
Sebagai tambahan informasi, melansir informasi yang dibagikan akun Instagram resmi Bank Indonesia @bank_indonesia, imported inflation adalah inflasi yang timbul karena adanya kenaikan Harga barang-barang impor, seperti kenaikan bahan bakar impor, material, dan komponen di luar negeri sehingga mengakibatkan naiknya Harga barang dan jasa di dalam negeri. Inflasi impor biasanya disebabkan oleh penurunan nilai mata uang suatu negara.
Tonton: Harga Keekonomian Pertamax Rp 17.000, Beban Kompensasi Pemerintah Makin Membengkak
Contoh imported inflation adalah sebagai berikut. Di Indonesia, salah satu barang impoer yang cukup signifikan memengaruhi inflasi adalah Harga minyak. Karena Indonesia masih tergantung pada impor minyak, kenaikan Harga minyak mendorong kenaikan biaya produksi di berbagai sektor, mulai dari transportasi, ketenagalistrikan, hingga industri manufaktur.
(Alicia Diahwahyuningtyas, Albertus Adit)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/13/211500365/ekonom-soroti-pelemahan-rupiah--imported-inflation-hingga-ancaman-daya-beli?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













