Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi penyesuaian lembaga pemeringkat Moody’s alias Mood’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat risiko utang pemerintah Indonesia menjadi negatif, meski peringkat utang tetap stabil di level Baa2 (investment grade) pada 5 Februari 2026.
Menurut Moody’s, kebijakan pemerintah semakin sulit diprediksi sehingga berpotensi menekan efektivitas kebijakan dan kredibilitas di mata investor. Moody's juga menyoroti meningkatnya belanja pemerintah, terutama program sosial, serta ketidakpastian terkait pembentukan Danantara.
Namun, Moody’s tetap menilai ekonomi Indonesia kuat dengan pertumbuhan sekitar 5% dan pengelolaan fiskal yang relatif hati-hati.
Purbaya tak ambil pusing terkait outlook Moody's tersebut dan menegaskan bahwa ekonomi Indonesia sudah berbalik ke arah positif, dan pertumbuhan diproyeksikan meningkat lebih cepat ke depan.
"Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s kan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair. Bahwa walaupun ada program seperti yang mereka ragukan, tapi ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang lagi," kata Purbaya kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga: BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi
Ia juga menekankan bahwa pemerintah Indonesia tak pernah mangkir dan selalu mampu memenuhi kewajiban utangnya.
“Lembaga pemeringkat menilai apakah kita mampu atau mau membayar utang. Kedua-duanya kita penuhi, jadi seharusnya tidak ada masalah. Ini hanya bersifat jangka pendek,” ujar Purbaya.
Soal prospek arus modal asing, Purbaya menyebut investor harusnya bisa melihat dengan kondisi fundamental ekonomi nasional yang terus menguat, tercermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal IV-2025 yang tumbuh 5,39% secara tahunan (year on year/yoy). Menurutnya tidak ada alasan bagi pasar untuk khawatir terkait kemampuan membayar utang pemerintah Indonesia.
"Selama mereka melihat fondasi ekonomi kita membaik, apalagi triwulan keempat kemarin bagus kan, naik ke atas kan, walaupun di bawah target saya sih, (tapi) jelas kan ekonomi kita sudah berbalik arah. Nggak ada alasan (investor) ketakutan kita nggak bisa bayar atau kita nggak mau bayar utang," kata Purbaya.
Dalam pertemuan dengan Moody’s, Purbaya mengatakan diskusi lebih bersifat klarifikasi, bukan serangan terhadap kebijakan fiskal. Ia menilai pemerintah berhasil membalikkan arah ekonomi dengan biaya relatif minimum, sambil menjaga defisit terkendali dan pertumbuhan membaik.
"Diskusi saja, yang concern mereka agak jauh dari Kementerian Keuangan kan. Yang saya baca-baca itu bukan nyerang masalah defisit, (tapi) mereka takut defisit melebar, tapi mereka tahu juga saya bisa kendalikan dengan baik," ucap Purbaya.
Baca Juga: Menko Airlangga Buka Suara soal Outlook Negatif Moody’s, Apa Katanya?
Ia menduga Moody's mengeluarkan outlook sebelum data pertumbuhan PDB Kuartal IV-2025 dirilis. Menurutnya, jika Moody's menunggu hingga angka pertumbuhan keluar, hasil penilaian mereka kemungkinan akan berbeda.
"Karena dari sisi fiskal, kita bergerak ke arah yang benar. Pertumbuhan lebih bagus, defisit masih terkendali. Kita berhasil membalikkan ala ekonomi dengan biaya yang relatif minimum," imbuh Purbaya.
Selanjutnya: Indosat Hadang 2 Miliar Ancaman Spam dan Scam, Lindungi Pelanggan Lewat Teknologi AI
Menarik Dibaca: Hemat Lebih Banyak! 6 Promo Kuliner Spesial Hari Ini 6 Februari, Starbucks hingga A&W
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












