kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

OECD pangkas lagi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% di 2019 dan 2020


Kamis, 19 September 2019 / 19:46 WIB
ILUSTRASI. Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

Efek perlambatan ekonomi dan perdagangan global semacam itu, menurutnya, akan lebih parah jika kebijakan makroekonomi tidak mampu merespons secara penuh untuk menangkis (offset) tekanan ekonomi akibat terbatasnya ruang kebijakan. 

Namun, ia menilai, tingkat pendapatan yang dalam tren meningkat, tren tingkat kemiskinan yang menurun, serta kebijakan suku bunga acuan yang melonggar harusnya dapat menopang perekonomian. 

“Hal-hal itu harusnya dapat memastikan bahwa permintaan sektor swasta tetap terjaga kuat,” tutur Boone. 

OECD memandang, negara emerging-markets seperti India, Mexico, Brasil, Rusia, dan Indonesia memiliki keuntungan dengan kebijakan nilai tukar fleksibel (flexible exchange rate frameworks) dan eksposur utang luar negeri yang terkendali. 

Baca Juga: Ini komentar mantan dirjen pajak soal pajak over the top

Dengan tingkat inflasi yang tetap rendah, kebijakan moneter akomodatif dapat terus berlanjut. Namun di samping itu, OECD mendorong penguatan kebijakan fiskal pada negara emerging markets untuk mengimbangi instrumen moneter suku bunga acuan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×