Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan risiko inflasi kembali meningkat akibat cuaca ekstrem berupa potensi El Nino yang sangat kuat pada akhir 2026 dapat menekan produksi pertanian di sejumlah negara, termasuk Indonesia, sehingga berisiko mendorong kenaikan harga pangan.
Dalam laporan terbarunya bertajuk OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, OECD mencatat Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan probabilitas terjadinya El Nino yang sangat kuat mencapai 95% pada periode Oktober-Desember 2026.
OECD menyebut fenomena tersebut biasanya mengganggu pola curah hujan. Untuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, El Nino yang sangat kuat berkaitan dengan kondisi kekeringan yang dapat menekan produksi pertanian.
Baca Juga: Apindo Bidik 2,8 Juta Pekerja Formal Baru per Tahun Lewat RUU Ketenagakerjaan
“El Nino yang sangat kuat dikaitkan dengan probabilitas yang lebih tinggi terhadap kondisi kering di Australia, monsun yang lebih lemah di India, serta kekeringan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara,” tulis OECD.
Risiko tersebut dapat menambah tekanan terhadap harga pangan. OECD menyebut pengalaman sebelumnya menunjukkan El Nino kuat dapat mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga dua tahun, dengan dampak yang lebih besar apabila fenomenanya sangat kuat.
OECD bahkan memperkirakan dalam skenario risiko, harga pangan global dapat 10% lebih tinggi pada 2027 dibandingkan proyeksi dasar. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena OECD memproyeksikan inflasI Indonesia mencapai 3,3% pada 2026 sebelum melandai menjadi 3% pada 2027.
OECD menilai tekanan harga pangan menjadi risiko penting bagi rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah, karena dapat menggerus pendapatan riil dan meningkatkan ekspektasi inflasi.
“Faktor-faktor tersebut mengarah pada meningkatnya risiko tekanan harga komoditas pangan yang lebih kuat dari perkiraan,” tulis OECD.
Dengan demikian, apabila El NiNo berkembang sesuai skenario tersebut, tekanan inflasi Indonesia tidak hanya berasal dari energi global, tetapi juga berpotensi datang dari sisi pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














