kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Nilai tukar rupiah terdepresiasi 6,42%, ekonom Indef ingatkan hal ini


Jumat, 18 September 2020 / 16:53 WIB
Nilai tukar rupiah terdepresiasi 6,42%, ekonom Indef ingatkan hal ini
ILUSTRASI. Petugas merapikan mata uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, Rabu (4/7). KONTAN/Cheppy A.Muclis/04/07/2018


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menyebut kalau ketidakpastian di pasar keuangan akibat faktor global maupun sejumlah risiko di dalam negeri mendorong pelemahan nilai tukar rupiah. 

Gubernur BI Perry Warjiyo pun menyebut kalau nilai tukar rupiah per 16 September 2019 bila dibandingkan dengan akhir Desember 2019 terdepresiasi 6,42%. Bila dibandingkan dengan akhir Juli 2020, nilai tukar rupiah per pertengahan September 2020 juga mengalami depresiasi 1,58% point to point

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira melihat, ke depannya nilai tukar rupiah masih berpotensi akan menemui beberapa tantangan yang bisa melemahkan nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: BI: Pelemahan rupiah akibat ketidakpastian di pasar keuangan

“Yang perlu diwaspadai adalah tren penurunan surplus perdagangan dan volatilitas pada November 2020 saat pemilihan presiden Amerika Serikat (AS),” kata Bhima kepada Kontan.co.id, Jumat (18/9). 

Bhima juga mengatakan kalau pelemahan rupiah berpotensi terguncang pada bulan November 2020 setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2020. 

Menurutnya, jika perhitungan perekonomian menunjukkan kalau kuartal ketiga tahun ini terkontraksi cukup dalam, maka ini akan menjadi sentimen negatif di pasar keuangan yang juga bisa melemahkan mata uang Garuda. 

Bhima pun menyarankan untuk bank sentral mendorong regulasi terkait kewajiban konversi Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke rupiah. Menurutnya, ini merupakan salah satu hal efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: Perkasa, rupiah spot ditutup menguat 0,67% ke Rp 14.735 per dolar AS pada hari ini

Bhima melihat, DHE memegang peran penting untuk menguatkan kurs rupiah. Namun, sejauh ini DHE yang dikonversi ke kurs rupiah oleh eksportir masih sedikit. “Selain itu, lewat peraturan insentif pajak yang ada juga sama sekali belum memadai,” tandasnya. 

Lebih lanjut, Bhima pun memperkirakan kalau pergerakan rupiah di akhir tahun 2020 akan berada di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 15.500 per dollar AS.

Selanjutnya: Kembali menguat, berapa kurs dollar rupiah Bank Mandiri hari ini, Jumat 18 September?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×