Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatat kinerja negatif pada Juli 2026. Tingginya pertumbuhan impor, terutama dari sektor minyak dan gas (migas), menjadi salah satu faktor utama yang menekan keseimbangan perdagangan nasional.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 akan mencatat defisit sekitar US$ 250 juta. Ia merinci defisit tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan impor yang lebih tinggi, yakni 28,85% secara tahunan (year on year/yoy), sementara ekspor hanya tumbuh 3,36% yoy.
"Proyeksi masih defisit. Kita perkirakan sekitar US$ 250 juta, defisitnya agak lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya sekitar US$ 450 juta," ujar Juniman kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).
Menurut Juniman, defisit neraca perdagangan tersebut terutama masih disebabkan tingginya impor minyak dan gas (migas). Kondisi tersebut membuat defisit neraca migas belum mampu diimbangi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang masih berada dalam tekanan turut menahan kinerja ekspor Indonesia. Permintaan terhadap produk-produk Indonesia dinilai masih mengalami stagnasi sehingga menekan neraca perdagangan pada Juli.
Baca Juga: Pengetatan Administrasi Tekan Realisasi Restitusi Pajak
"Defisit ini memang lebih dikarenakan impor migasnya masih tinggi. Defisit neraca migas pada akhirnya tidak bisa di-offset dengan surplus nonmigas karena kondisi global masih under pressure," jelasnya.
CPO Masih Menopang Ekspor Indonesia
Meski tekanan masih membayangi perdagangan Indonesia, sejumlah komoditas tetap mampu menopang kinerja ekspor. Salah satunya adalah crude palm oil (CPO) yang masih mencatat pertumbuhan seiring dengan kenaikan harga komoditas tersebut.
"CPO masih tumbuh karena terkait dengan harga CPO yang melonjak. Itu yang masih menopang ekspor kita," katanya.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada komoditas batu bara. Harga batu bara di pasar internasional masih berada dalam tekanan, sejalan dengan penurunan harga minyak pada Juli. Kondisi tersebut turut menekan kinerja ekspor batu bara Indonesia.
"Apalagi harga minyak sekarang pada Juli mengalami penurunan sedikit. Itu yang membuat harga batu bara juga ikut turun sehingga ekspor batu bara kita juga tidak baik," ujar Juniman.
Meski demikian, kinerja ekspor dari sektor manufaktur dinilai masih cukup baik. Juniman melihat produk manufaktur Indonesia mulai mendapatkan permintaan dari pasar nontradisional, seperti India, Afrika, dan sejumlah wilayah di Asia Tengah.
Ia bilang, permintaan terutama masih terjadi terhadap produk manufaktur yang berkaitan dengan tekstil masih cukup baik. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya produksi tekstil dari negara pesaing seperti China dan Vietnam di pasar global.
Harga Minyak Jadi Risiko bagi Neraca Perdagangan
Lebih lanjut, Juniman memperkirakan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia masih akan bergantung pada dua faktor utama, yakni pergerakan harga minyak dan pemulihan ekonomi global.
Saat ini, harga minyak masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena kebutuhan konsumsi minyak domestik masih jauh lebih besar dibandingkan produksi dalam negeri.
Juniman menyebut konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600.000 barel per hari. Dengan demikian, terdapat defisit sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor.
"Kalau harga minyak tinggi, tentu balance migas kita defisitnya makin tinggi," katanya.
Baca Juga: Pemerintah Bidik 3,49 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2027
Ia menjelaskan, neraca perdagangan migas Indonesia memang telah mengalami defisit dalam waktu lama. Namun, besaran defisit tersebut meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelum konflik di Timur Tengah, defisit neraca migas Indonesia berada di kisaran US$ 1 miliar-US$ 2 miliar per bulan. Kini, defisit tersebut bahkan dapat mencapai sekitar US$ 4,5 miliar-US$ 5 miliar per bulan.
Karena itu, pemulihan ekonomi global menjadi faktor penting untuk kembali mendorong ekspor Indonesia, termasuk ekspor migas, sehingga dapat membantu mengimbangi defisit migas.
"Kalau pemulihan ekonomi global cepat, itu membuat ekspor kita juga naik. Itu yang sebelumnya meng-offset defisit migas," ujar Juniman.
Neraca Perdagangan Agustus Masih Berimbang
Juniman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia masih berpotensi mengalami tekanan pada Agustus 2026. Menurutnya, peluang neraca perdagangan pada Agustus untuk mencatat surplus maupun defisit masih relatif berimbang, tergantung perkembangan ekspor dan impor migas.
Sementara itu, peluang surplus dinilai lebih terbuka pada September 2026 apabila kondisi global membaik dan tidak terjadi eskalasi konflik baru.
"Kalau September saya rasa bisa surplus lagi, kalau harga minyak bisa bertahan di bawah US$ 90," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














