Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan target ambisius untuk memperluas kesempatan kerja pada 2027. Sebanyak 2,57 juta hingga 3,49 juta lapangan kerja ditargetkan tercipta, seiring dengan sasaran pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6%.
Target tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hingga berada di kisaran 4,30%-4,87% pada 2027.
Kepala Badan Perencanaan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI Anwar Sanusi mengatakan, target penciptaan lapangan kerja tersebut merupakan target makro pembangunan nasional yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan RAPBN 2027, bukan target satu kementerian.
"Target penciptaan 2,57-3,49 juta lapangan kerja pada 2027 perlu dilihat sebagai target makro pembangunan nasional dalam RKP dan RAPBN 2027, bukan target satu kementerian. Target tersebut konsisten dengan sasaran pertumbuhan ekonomi RAPBN 2027 sebesar 6% dan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 4,30-4,87%," kata Anwar kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).
Baca Juga: Relaksasi DHE SDA 64 Eksportir, Potensi Devisa Capai US$ 40 Miliar
Ia menjelaskan, proyeksi penciptaan lapangan kerja mempertimbangkan sejumlah variabel, antara lain pertumbuhan ekonomi, perkembangan angkatan kerja, investasi, struktur pertumbuhan berdasarkan lapangan usaha, serta kemampuan atau elastisitas masing-masing sektor dalam menyerap tenaga kerja.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang sama belum tentu menghasilkan jumlah lapangan kerja yang sama. Hal ini bergantung pada struktur pertumbuhan ekonomi, apakah lebih banyak berasal dari sektor padat modal atau sektor yang relatif padat karya.
"Perhitungan kerangka makro tersebut dilakukan pemerintah secara lintas kementerian, terutama dalam proses perencanaan Bappenas dan penyusunan kerangka ekonomi-fiskal. Dari sisi Kemnaker, fokus kami adalah memastikan supply tenaga kerja, kompetensi, dan mekanisme matching mampu bertemu dengan kebutuhan tenaga kerja yang muncul dari pertumbuhan tersebut," jelas Anwar.
Hilirisasi Jadi Salah Satu Penggerak Lapangan Kerja
Dari sisi sektor, Anwar menyebut penciptaan lapangan kerja pada 2027 akan ditopang oleh sejumlah mesin pertumbuhan.
Di antaranya hilirisasi dan industrialisasi, pembangunan infrastruktur dan perumahan, pangan dan agroindustri, ekonomi kerakyatan dan desa, serta sektor jasa seperti perdagangan, transportasi dan logistik, pariwisata, ekonomi digital dan ekonomi kreatif.
Arah tersebut sejalan dengan tema RKP 2027, yakni Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas, Investasi, dan Industri.
Untuk mendukung ekspansi ekonomi tersebut, pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional pada 2027 sebesar Rp2.322 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 13,8% dibandingkan target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Baca Juga: Restitusi Pajak Turun, Apindo Khawatir Ganggu Likuiditas dan Kepercayaan Dunia Usaha
Anwar menegaskan, target investasi Rp2.322 triliun merupakan target realisasi investasi nasional dan bukan kebutuhan anggaran APBN untuk menciptakan lapangan kerja.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas investasi dan kemampuan sektor dalam menyerap tenaga kerja. Sebab, investasi yang sangat padat modal memiliki rasio penciptaan pekerjaan yang berbeda dibandingkan manufaktur padat karya, konstruksi, agroindustri maupun sektor jasa.
"Tantangannya adalah bagaimana investasi dan industrialisasi menghasilkan efek pengganda yang lebih besar terhadap kesempatan kerja," ujarnya.
Pasar Kerja 2026 Masih Positif
Sementara itu, dari sisi pasar kerja 2026, Anwar mengatakan data terbaru masih menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan Sakernas Mei 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, bertambah sekitar 522.000 orang dibandingkan Februari 2026.
Pada periode yang sama, TPT turun dari 4,68% menjadi 4,65%. Namun, Anwar mengatakan pemerintah belum dapat menyatakan capaian penciptaan lapangan kerja 2026 telah sepenuhnya sesuai target karena tahun berjalan masih berlangsung.
"Karena saat ini masih Agustus 2026, maka tentu belum tepat menyebut realisasi hingga akhir 2026. Namun, data terbaru menunjukkan arah pasar kerja masih positif," katanya.
Dari sisi investasi, sepanjang semester I 2026 realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun dan berdasarkan pencatatan Kementerian Investasi/Hilirisasi menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung. Sementara itu, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45%.
Meski demikian, Anwar mengingatkan agar angka penyerapan tenaga kerja dari proyek investasi tidak langsung disamakan dengan perubahan jumlah penduduk bekerja dalam Sakernas.
"Perlu juga dibedakan antara angka penyerapan tenaga kerja dari proyek investasi dengan perubahan jumlah penduduk bekerja menurut Sakernas. Angka investasi menggambarkan tenaga kerja langsung yang terserap pada proyek yang direalisasikan, sedangkan Sakernas menangkap hasil bersih keseluruhan dinamika pasar kerja, termasuk penciptaan maupun hilangnya pekerjaan," jelasnya.
Baca Juga: Membedah Draf RUU Perampasan Aset, Ini Aset yang Bisa Dirampas Negara
Strategi Kemnaker Hadapi Kebutuhan Tenaga Kerja 2027
Memasuki 2027, Kemnaker menyiapkan strategi dari sisi pasokan tenaga kerja hingga akses terhadap pekerjaan. Strategi tersebut diarahkan pada tiga aspek, yakni meningkatkan employability, memperkuat matching, serta memperluas akses terhadap pekerjaan.
Anwar mengatakan, pelatihan vokasi dan pemagangan akan semakin diarahkan berdasarkan kebutuhan industri. Selain itu, sertifikasi kompetensi, informasi pasar kerja dan sistem matching juga diperkuat.
"Artinya, pelatihan vokasi dan pemagangan harus semakin berbasis kebutuhan industri; sertifikasi kompetensi diperkuat; informasi pasar kerja dan sistem matching diperluas; serta penempatan tenaga kerja, produktivitas, dan perluasan kesempatan kerja terus ditingkatkan," ujarnya.
Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kemnaker 2025-2029, pada 2027 ditargetkan sekitar 1,16 juta lowongan tersedia dalam sistem informasi pasar kerja. Fasilitasi serta pembinaan penempatan tenaga kerja juga ditargetkan mencapai sekitar 1,198 juta orang.
Kemnaker juga akan memperkuat pengembangan kompetensi, pemagangan dan sertifikasi. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan peningkatan investasi dan ekspansi industri tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














