kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Neraca Indonesia-China sama-sama defisit


Rabu, 02 Mei 2012 / 07:30 WIB
Neraca Indonesia-China sama-sama defisit
ILUSTRASI. Indonesia kedatangan vaksin Covid-19 AstraZeneca sebesar 3,85 juta dosis


Reporter: Eka Saputra, Dina Farisah, Herlina Kartika Dewi | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Aneh, data perdagangan Indonesia dan China berselisih jauh. Sepanjang triwulan I tahun 2012 ini, baik Indonesia maupun China menyatakan defisit dalam neraca perdagangan kedua negara.

Catatan Bloomberg, sampai akhir Maret 2012, neraca perdagangan China-Indonesia defisit US$ 580 juta di pihak China. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia tekor US$ 1,65 miliar dari neraca dagangnya dengan China. Entah data mana yang bisa dipercaya.

Aviliani, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional berpendapat, perbedaan data itu lebih karena seleksi dokumen ekspor-impor di Indonesia masih lemah. "Di China, seleksi dokumen sangat ketat. Sedangkan ekspor Indonesia sering tidak lengkap dan tak tercatat," ujarnya, kemarin.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku, data hasil pencatatan BPS sangat bisa dipercaya. "Intinya, ada perbedaan mekanisme penghitungan dan ada penambahan nilai terhadap ekspor kita sebelum tiba di negara tujuan akhir," ujarnya ke KONTAN.

Meski begitu, pemerintah tidak tinggal diam. Deddy Saleh, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemdag menyatakan tengah mengkaji perbedaan data ini. Ada beberapa kemungkinan mengapa terjadi perbedaan data.

Pertama, perbedaan waktu pencatatan. "Misalnya, ekspor dari kita akhir Maret, sampai ke China bulan April, maka di sana dicatat impor April," terang Deddy.

Kedua, ada perbedaan metode pencatatan. Kalau Indonesia mencatat ekspor lewat metode free on board (FOB), di China pencatatan impor pakai sistem cost insurance and freight (CIF). Di luar itu, Dedi tak menampik kemungkinan adanya penyelundupan ekspor ke China.

Sisi positifnya, perbedaan data ini bisa membuka negosiasi perdagangan IndonesiaChina. Syaratnya harus ada akurasi data. Untuk itu, "Kami akan melakukan pengecekan data dengan sumber lain, seperti WTO (organisasi perdagangan dunia), WCO (organisasi pabean dunia), dan World Bank," kata Dedi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×