kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Neraca dagang September 2019 mengalami defisit, ini pendapat ekonom


Selasa, 15 Oktober 2019 / 19:09 WIB
ILUSTRASI. Lindungi Produsen Lokal —- Bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (24/5). Kementerian Perdagangan akan menerapkan instrumen trade remedies untuk melindungi limpahan produk asing akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 160 juta pada September 2019 dan ini masih disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor dan adanya peningkatan impor.

Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, defisit neraca perdagangan ini juga terkait dengan perkembangan global, terutama perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Pengembangan energi terbarukan dapat menjadi solusi defisit neraca dagang

Adanya perang dagang tersebut, menyebabkan adanya fluktuasi harga dan ketidakpastian kondisi global.

Melihat kondisi yang seperti ini, David menyarankan agar pemerintah mengambil langkah struktural untuk memperbaiki neraca perdagangan, terutama dari sisi impor energi dan juga verifikasi ekspor, dari sisi produk dan negara tujuan.

David melihat Indonesia saat ini masih terlalu fokus kepada negara-negara besar konvensional seperti Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), Jepang, China, dan India.

Padahal, masih ada negara non konvesional yang bisa menjadi potensi tujuan ekspor, seperti Amerika Latin, Asia Tengah, dan bahkan Afrika.

Baca Juga: BPS: Defisit neraca perdagangan disebabkan kinerja ekspor yang kurang ekspansif

"Negara-negara yang prospek pertumbuhannya besar dan negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Contohnya mungkin Nigeria itu juga bisa," ujar David kepada Kontan.co.id, Selasa (15/10).




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×