Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat adanya penurunan penerbitan obligasi korporasi pada semester I – 2026 dibanding semester I – 2025.
Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo mengatakan tren perbandingan penerbitan obligasi korporasi terhadap obligasi korporasi yang jatuh tempo pada semester I – 2026 meningkat 158,2%. Ini artinya penerbitan obligasi korporasi pada semester I – 2026 jumlahnya lebih besar dibanding obligasi korporasi yang jatuh tempo pada periode tersebut.
Ia mencontohkan, pada Januari 2026 obligasi jatuh tempo senilai Rp 4,23 triliun dan penerbitan obligasi di Januari 2026 mencapai Rp 6,35 triliun. Jika dilihat, penerbitan obligasi korporasi paling banyak terjadi pada Februari dan Maret 2026 yang masing – masing sebesar Rp 29,10 triliun dan Rp 23,90 triliun.
“Penerbitan obligasi korporasi di semester I – 2026 tercatat di Rp 87,35 triliun, menurun 3,91% secara year on year (yoy), dibanding semester I – 2025 yang mencapai Rp 90,90 triliun,” ujar Hendro dalam konferensi pers, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Candi Prambanan Direvitalisasi, Prabowo: Pengingat 1.000 Tahun Hubungan RI-India
Jika dilihat dari sektor, sektor multifinance merupakan sektor terbesar yang menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 12,93 triliun. Kemudian diikuti oleh sektor pulp dan kertas sebesar Rp 12,84 triliun, perusahaan induk yang menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 11,87 triliun. Lalu, sektor perbankan sebesar Rp 11,69 triliun dan sektor pertambangan sebesar Rp 11,58 triliun.
“Jumlah emiten atau perusahaan yang menerbitkan obligasi korporasi mencapai 62 perusahaan,” kata Hendro.
Pefindo mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan lebih rendahnya penerbitan obligasi korporasi di semester 1-2026 adalah nilai jatuh tempo yang lebih kecil, yaitu sebesar Rp 55,21 triliun, dibandingkan dengan semester 1-2025 lalu yang mencapai Rp 64,80 triliun (lebih rendah 14,8%). Lebih rendahnya nilai jatuh tempo membuat kebutuhan untuk refinancing relatif lebih rendah. Meskipun demikian, lebih tingginya nilai penerbitan dibandingkan dengan jatuh tempo sepanjang semester 1 ini menunjukkan bahwa kondisi pasar surat utang korporasi masih relatif baik sepanjang semester I tahun ini.
Selain itu, meningkatnya biaya dana menjadi salah satu faktor lainnya. Kenaikan BI Rate dan yield benchmark telah mendorong pembentukan kupon di pasar mengalami peningkatan. Sebagai contoh, surat utang korporasi bertenor 3 tahun dan berperingkat AAA mengalami kenaikan kupon di pasar. Rata-rata kupon surat utang korporasi tenor 3 tahun peringkat AAA telah mengalami kenaikan dari 5,53% pada Desember 2025 lalu, menjadi 7,03% pada Juni 2026. Naiknya rata-rata kupon sebesar 150 basis poin (bps) akibat kenaikan yield benchmark dan BI Rate ini turut menekan penerbitan surat utang korporasi pada tahun 2026.
“Terlihat non BUMN atau swasta cukup dominan di pasar surat utang, dengan total penerbitan Rp 62,9 triliun dan BUMN group sebesar Rp 16,2 triliun,” terang Hendro.
Adapun dilihat dari tujuan penggunaan, sebanyak Rp 44,77 triliun digunakan untuk modal kerja, Rp 23,10 triliun digunakan untuk refinancing, dan Rp 19,48 triliun untuk investasi. Berdasarkan peringkat, penerbit obligasi korporasi peringkat A tercatat sebesar 44,78%, peringkat AAA sebanyak 35,26%, dan penerbit obligasi peringkat AA sebanyak 19,96%. Lalu berdasarkan tenor, obligasi korporasi yang paling banyak diterbitkan pada semester I adalah tenor 5 tahun sebesar 28,31%, tenor 1 tahun sebanyak 28,01%, tenor 3 tahun sebesar 27,85%, dan obligasi korporasi tenor 7 tahun sebanyak 11,45%.
“Kenaikan yield benchmark dan BI Rate mulai berdampak pada biaya dana di pasar surat utang korporasi dimana di 3 bulan terakhir yakni April, Mei, Juni 2026 terlihat ada kenaikan realisasi kupon surat utang yang diterbitkan peringkat AAA tenor 3 tahun dibanding bulan – bulan sebelumnya,” jelas Hendro.
Hendro juga bilang bahwa biaya dana di beberapa peringkat telah berada di atas rata-rata suku bunga pinjaman, sehingga membuat emiten lebih selektif dalam penerbitan obligasi korporasi. Ini menjadi dinamika yang perlu dicermati perusahaan dalam menerbitkan surat utang.
Meski begitu, Hendro menyampaikan prospek penerbitan obligasi korporasi pada semester II terbilang masih prospektif. Hal ini karena kebutuhan refinancing yang masih besar. Tercatat obligasi korporasi jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp 107,51 triliun. Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan tetap stabil, seiring dengan kebijakan fiskal yang ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan. Ia juga melihat permintaan investor masih kuat seiring dengan investor yang mencari alternatif imbal hasil di tengah tertekannya pasar saham.
“Penerbitan baru surat utang 2026 diperkirakan akan berkisar Rp 154 triliun – Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun,” pungkas Hendro.
Baca Juga: Said Iqbal Usul Ambang JHT Kena Pajak Naik Jadi Rp 400 Juta, Ini Pertimbangannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














