kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Menristek Bambang Brodjonegoro beberkan kendala inovasi di Indonesia


Senin, 24 Februari 2020 / 13:35 WIB
Menristek Bambang Brodjonegoro beberkan kendala inovasi di Indonesia
ILUSTRASI. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyampaikan pidato saat akan meluncurkan penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPP

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengakui, inovasi di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain.

Menurutnya hal ini dibuktikan dari Indeks Daya Saing Global atau  Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF).

Dalam laporan tersebut, posisi posisi Indonesia menurun posisi ke-45 menjadi ke-50, di mana kapasitas inovasi (innovation capacity) hanya  menempati ranking 74 sedunia.

Baca Juga: Menristek bilang Indonesia belum layak disebut negara maju, kenapa?

Bambang menjelaskan terdapat berbagai alasan mengapa inovasi di Indonesia masih terkendala. Pertama, adalah sumber daya manusia. Menurut Bambang, jumlah dan kualitas sumber daya di Indonesia memang belum sesuai standar negara lain.

Ini bisa dilihat dari penelitian berkualifikasi S3 yang masih rendah, rasio peneliti terhadap jumlah penduduk yang kecil hingga masalah produktivitas peneliti.

"Jadi mau tidak mau sesuai dengan prioritas 5 tahun ke depan, yang fokus pada SDM, maka  kita juga harus serius membenahi SDM di bidang ristek,, sebagai sumber lahirnya inovasi di kemudian hari," ujar Bambang, Senin (24/2).

Tak hanya terkait kurangnya SDM, Bambang juga memandang adanya birokrasi di kelembagaan riset menjadi alasan riset dan inovasi tak berkembang.




TERBARU

Close [X]
×