kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mendag: Atase Kemendag di luar negeri harus bisa marketing


Senin, 14 Oktober 2019 / 20:16 WIB
Mendag: Atase Kemendag di luar negeri harus bisa marketing
ILUSTRASI. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan kuliah umum Kebijakan Perdagangan

Reporter: Amalia Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Di tengah isu ekonomi global terkait kemungkinan resesi serta perang dagang AS dan China, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa atase-atase Kementerian Perdagangan di luar negeri harus piawai marketing atau pemasaran.

Hal tersebut diutarakannya dalam Pembekalan Perwakilan Perdagangan di Luar Negeri di Kantor Kementerian Perdagangan di Jakarta, pada Senin (14/10).

Baca Juga: Banjir impor tekstil, Sri Mulyani desak Kemendag revisi kebijakan impor

Ungkapan tersebut juga sebagai salah satu pesan Enggartiasto kepada para perwakilan luar negeri atau atase-atasenya, jelang berakhir masa jabatan menteri yang tinggal menghitung hari.

"Atase kita jangan hanya promosi, terus selesai. Harus ada perbaikan. Karena promosi itu hanya satu bagian dari marketing. Apalagi kondisi ekonomi global belum ada tanda membaik. Kita tetap harus berusaha bagaimana memasukan produk dalam negeri untuk dipasarkan di luar negeri. Harus ada komoditas selain kelapa sawit dan batu bara. Untuk menemukan komoditas lain itulah mengapa marketing penting, karena seorang pemasar bisa beradaptasi dengan dinamika dan perubahan pasar," ujar Enggartiasto, dikutip dari keterangan resmi, Senin (14/10).

Ia juga menekankan bagaimana mengemas produk lewat diferensiasi. Karena tanpa diferensiasi, produk Indonesia di luar negeri yang dijual lebih mahal akan tergantikan oleh produk yang lebih murah dari negara lain.

Masalah diferensiasi tersebut, juga diamini oleh pakar marketing yang juga Founder & Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya.

Baca Juga: Banjir impor tekstil, pemerintah telah blokir 96 importir

Menurutnya, kalaupun sawit masih jadi komoditas potensial asal punya diferensiasi yang membedakan dengan sawit negara lain, kemungkinan untuk terjual sangat besar. Untuk urusan diferensiasi ini, Hermawan mencontohkan China.

"China dulu produk-produknya jual murah. Lama-kelamaan mereka berinovasi dan inovasi itulah yang jadi diferensiasi. Sehingga produk mereka berani melawan produk barat dengan harga yang tidak murah lagi, namun orang beli. Jadi bukan produk yang harus dijual, tapi diferensiasi atau keunikan produk kita," ujar Hermawan.

Hermawan yang juga baru saja berbicara di konferensi Kotler Future Marketing Summit 2019 di Beijing pada Sabtu (12/10) 2019 lalu menilai bahwa diferensiasi juga harus tepat sasaran. Tidak semua segmen pasar harus digarap.

Bagaimana mencari pasar yang tepat itulah yang kemudian harus jadi bekal untuk para atase di luar negeri. Menurut Hermawan, dulu mencari pasar yang tepat adalah dengan mencari need and want target pasar. Namun sekarang tidak lagi, tapi harus melihat anxiety and desire, atau kegelisahan dan hasrat.


Tag

Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×