Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai pembatalan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump oleh Mahkamah Agung (MA) AS menjadi momentum baik bagi Indonesia untuk negosiasi ulang kebijakan tarif.
Sebelumnya Indonesia telah menyepakati pemberlakuan tarif AS sebesar 19% pada Jumat (20/2/2026). Tak berselang lama, MA AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Trump karena dianggap tidak sah.
Merespons putusan itu, Trump menyatakan telah menandatangani ketetapan tarif baru untuk semua negara atau tarif global yang ditetapkan 10%.
Baca Juga: Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK, Soroti Rp 223 T Dana MBG Masuk Pos Pendidikan
Menurut Yusuf, polemik kebijakan di AS ini bisa menjadi momentum baik bagi pemerintah untuk menegosiasikan ulang kesepakatan tarif yang lebih menguntungkan Indonesia.
"Pemerintah seharusnya tidak lagi defensif, melainkan proaktif memanfaatkan perubahan ini sebagai leverage untuk menegosiasikan tarif yang lebih rendah, idealnya mendekati atau bahkan di bawah tarif baseline 10%, serta memperluas sektor yang mendapatkan tarif preferensial," kata Yusuf pada Kontan.co.id, Minggu (22/2/2026).
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat posisi tawar dengan menunjukkan pentingnya Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di sektor mineral strategis, manufaktur padat karya, dan komoditas unggulan.
Lebih lanjut, Yusuf menilai bahwa pemerintah perlu mempertahankan negosiasi penerapan tarif 0% bagi sektor-sektor unggulan yang sebelumnya telah disepakati dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Baca Juga: Menakar Dampak Pembatasan Pajak Digital Perjanjian RI-AS Terhadap Penerimaan Negara
Pasalnya, Jika kebijakan tarif flat 10% diterapkan secara universal tanpa pengecualian sektoral, maka sektor yang sebelumnya menikmati tarif 0% berpotensi mengalami kenaikan beban tarif menjadi 10%.
"Biasanya dalam praktik perdagangan internasional, sektor-sektor strategis yang sebelumnya mendapatkan fasilitas tarif pengecualian dapat dinegosiasikan kembali untuk mempertahankan keistimewaan tersebut, terutama jika didukung oleh perjanjian bilateral atau kerangka kerja perdagangan tertentu," ungkap Yusuf.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan akan kembali negosiasi agar kesepakatan tarif Amerika Serikat (AS) untuk produk unggulan Indonesia tetap berlaku 0%.
Airlangga bilang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART), kedua negara memiliki waktu 60 hari untuk meratifikasi perjanjian tersebut.
Baca Juga: Polemik Perjanjian Dagang RI–AS, Ancaman bagi Konsumen Muslim dan Industri Halal
Dengan demikian, implementasi ART berpotensi mengalami penyesuaian dalam jangka waktu tersebut mengikuti dinamika kebijakan di kedua negara.
Menimbang situasi tersebut, Airlangga kemudian menyebut Indonesia membuka opsi penerapan tarif impor sebesar 10% secara umum, namun tetap meminta pembebasan tarif untuk komoditas unggulan seperti kopi, kakao, dan produk agrikultur lainnya seperti tertuang di dokumen ART.
"Kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian, dan yang diminta oleh Indonesia adalah kalau yang lain semua berlaku 10%, tetapi (komoditas ekspor) yang sudah diberikan 0% itu kita minta tetap," tutur Airlangga, Sabtu (21/2/2026).
Selain sektor agrikultur, pemerintah juga meminta AS mempertahankan tarif impor 0% untuk industri unggulan seperti tekstil dan pakaian jadi sesuai kesepakatan ART.
Airlangga menjelaskan bahwa secara hukum, Indonesia masih berpeluang menikmati pembebasan tarif tersebut karena kebijakan tersebut tercantum dalam perintah presiden (executive order) yang berbeda dari aturan yang dibatalkan MA AS.
Selanjutnya: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, Begini Arah Strategi Investasi Asuransi Umum
Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)