kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Konflik Iran-Israel Bawa Dampak Bagi Perekonomian Indonesia


Senin, 15 April 2024 / 19:50 WIB
Konflik Iran-Israel Bawa Dampak Bagi Perekonomian Indonesia
ILUSTRASI. Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik terhadap Israel pada Sabtu (13/4) malam. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik terhadap Israel pada Sabtu (13/4) malam sebagai misi balasan atas serangan udara pada 1 April lalu. Serangan tersebut dinilai bakal menimbulkan dampak perekonomian global dan dikhawatirkan akan mengerek harga minyak global.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ketika harga minyak dunia melonjak, maka ancaman inflasi global yang tinggi kembali membayangi perekonomian dunia. Negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia dapat mengalami peningkatan tekanan inflasi impor.

"Dengan melemahnya ekonomi global dan normalisasi harga komoditas, berdampak negatif pada kinerja ekspor dan surplus neraca perdagangan Indonesia dapat dengan cepat berubah menjadi defisit. Hal ini memicu pelebaran defisit transaksi berjalan dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah," kata Josua kepada Kontan, Senin (14/4).

Baca Juga: Konflik Iran-Israel Bakal Menambah Beban APBN

Josua menerangkan, kenaikan harga minyak mentah dunia juga dapat memberikan tekanan fiskal bagi Indonesia karena kebijakan fiskal akan bertindak sebagai peredam guncangan melalui subsidi energi dan kompensasi. 

Situasi ini dapat menyebabkan defisit fiskal yang melebar di tengah menurunnya penerimaan negara akibat normalisasi harga komoditas, sehingga meningkatkan pembiayaan anggaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan imbal hasil obligasi Indonesia.

Kemudian, munculnya kembali ancaman inflasi global dapat menghalangi bank-bank sentral utama untuk memangkas suku bunga kebijakan. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed kemungkinan akan mempertahankan kebijakan higher or longer secara terus-menerus jika inflasi berada di atas target 2% karena kenaikan harga energi.

"Tingginya suku bunga kebijakan global, ditambah dengan tekanan inflasi domestik dan defisit transaksi berjalan yang melebar akan mempersempit ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan BI-rate dalam waktu dekat," ujarnya.

Baca Juga: Cegah Rambatan Ketegangan Iran-Israel, Pemerintah Siapkan Sejumlah Penangkal

Selain itu, naiknya tingkat inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat yang akan berdampak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Ruang kebijakan fiskal yang menyempit akibat pelebaran defisit akan membatasi belanja pemerintah yang produktif.

Sementara, ruang kebijakan moneter yang menyempit juga dapat menekan kondisi likuiditas perekonomian, termasuk perbankan, sehingga suku bunga sulit turun. Hal ini dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha yang berujung pada melambatnya kegiatan investasi. 

"Kenaikan harga minyak dunia juga akan melemahkan ekspor neto. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terancam melemah atau melambat," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×