kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kondisi Utang Naik Tajam Tak Selaras dengan Belanja Produktif, Ini Kata Airlangga


Jumat, 22 Desember 2023 / 11:31 WIB
Kondisi Utang Naik Tajam Tak Selaras dengan Belanja Produktif, Ini Kata Airlangga
ILUSTRASI. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, kondisi utang Indonesia masih terkendali


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kondisi utang Indonesia terus meningkat mencapai Rp 8.041,01 triliun pada November 2023. Akan tetapi, utang yang jumbo tersebut dinilai tidak selaras dengan belanja produktif seperti pembangunan infrastruktur.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, kondisi utang Indonesia masih terkendali, dengan rasio utang sebesar 38% di bawah ambang batas maksimal 60% dan lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

“Kita lihat utang kita tetap terendah dari negara maju bahkan yang di atas 100%, juga lebih rendah dari negara berkembang lain,” tutur Airlangga dalam Seminar Nasional Perekonomian Outlook  Indonesia, Jumat (22/12).

Terkait pembangunan, Airlangga mengaku faktor yang menghambat pembangunan infrastruktur Indonesia salah satunya terkait biaya investasi yang masih mahal. Hal ini kata Dia, tercermin Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang masih tinggi.

Baca Juga: Menko Airlangga: Fundamental Perekonomian RI Masih Terjaga di Tengah Gejolak Global

Tercatat kondisi ICOR berada di atas pertumbuhan ekonomi, yakni 7,6% pada 2022. Di samping itu, Airlangga menyampaikan, capital-output ratio (COR) juga masih perlu diperbaiki.

“Tetapi tentu ini membutuhkan ekstra effort, artinya pengelolaan manajemen dari pembangunan baik itu yang dilakukan oleh pemerintah, dilakukan BUMN, oleh swasta harus lebih baik lagi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, salah satu faktor yang menghambat investasi adalah transportasi yang belum merata, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Maka dari itu, pembangunan tol laut perlu didukung, serta pembangunan industri konstruksi di wilayah di luar Pulau Jawa perlu dibangun.

“Di Papua, Manokwari sudah ada pabrik semen. Sehingga dengan demikian cost yang tinggi relatif bisa ditekan ke bawah. Dan kita ada target untuk cost transport dan logistik dalam 2030 masih 12%, di 2045 turun ke 8%,” imbuhnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×