kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Ketimpangan di pedesaan naik, warning bagi pemerintah


Senin, 16 Juli 2018 / 17:04 WIB
Ketimpangan di pedesaan naik, warning bagi pemerintah
ILUSTRASI. Pemaparan Biro Pusat Statistik


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat ketimpangan di Indonesia yang diukur menggunakan rasio gini (gini ratio) pada Maret 2018 turun menjadi 0,389. Rasio gini ini merupakan posisi terendah sejak September 2011 silam. Ini berarti tingkat ketimpangan menurun.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut, rasio gini di perkotaan turun menjadi 0,401, terendah sejak September 2018. Sayangnya, rasio gini di pedesaan justru naik menjadi 0,324, dari Maret 2017 dan September 2017 yang sebesar 0,32.

"Tingkat ketimpangan di pedesaan meningkat tipis, ini memberikan warning, bahwa 40% masyarakat lapisan bawah harus diberi perhatian," kata Suhariyanto, Senin (16/7).

Menurut Suhariyanto, kenaikan rasio gini di pedesaan lantaran kenaikan pengeluaran per kapita kelompok bawah lebih cepat dibandingkan kelompok menengah. Namun, kenaikan tersebut masih lebih lambat dari kenaikan pengeluaran kelompok atas.

Sementara penurunan rasio gini baik di tingkat perkotaan maupun di tingkat nasional, terjadi karena kenaikan pengeluaran per kapita kelompok bawah lebih cepat dibandingkan kelompok menengah dan kelompok atas.

Suhariyanto menyebut, untuk menurunkan angka kemiskinan dan rasio gini, tidak hanya memerlukan kebijakan tunggal, tetapi kombinasi masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan. "Jadi kebijakannya harus komprehensif," kata dia.

Yang pertama harus disentuh adalah pertumbuhan ekonomi, agar bisa tinggi tetapi tetap berkualitas. Caranya, dengan menggenjot sektor padat karya seperti pertanian, industri, dan perdagangan, agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

Kedua, memberikan kesempatan kepada masyarakat kelas bawah untuk bisa menikmati pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang baik. Misal, melalui program keluarga harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Indonesia Sejahtera.

Ketiga, melalui pemberian bantuan sosial (bansos). Sebab, bansos diperlukan, khususnya jika ada gejolak pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×