kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Kenaikan posisi investasi internasional Indonesia jadi indikasi inflow masih tinggi


Minggu, 29 September 2019 / 19:27 WIB
ILUSTRASI. Uang dollar AS


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Naiknya net kewajiban dalam posisi investasi internasional (PII) Indonesia pada kuartal II-2019 menjadi indikasi bahwa masih derasnya inflow ke Indonesia, terutama pada obligasi.

"Saat ini obligasi masih diminati karena tren suku bunga turun di Indonesia. Turunnya suku bunga menjadi indikasi bahwa harga masih akan naik, jadi orang-orang banyak membeli untuk mendapatkan capital gain," ujar Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih pada Kontan.co.id, Minggu (29/9).

Baca Juga: Market cap Pollux Properti Indonesia (POLL) capai Rp 7,52 triliun, ini kata analis

Lana menambahkan, ini juga terjadi karena spread antara suku bunga acuan Indonesia dengan suku bunga bank sentral Amerika (The Fed) masih terjaga.

Oleh karena itu, untuk menjaga PII, Bank Indonesia (BI) bisa dengan melakukan kembali pelonggaran suku bunga acuan. Namun, hal ini juga harus melihat langkah yang akan diambil oleh The Fed.

"Pokoknya harus menjaga spread. Kalau The Fed menurunkan suku bunga acuan, kita harus turun. Kalau misal The Fed tidak menurunkan, kita harus menurunkan suku bunga acuan sehingga PII masuk," tambah Lana.

Selain itu, untuk menambah PII dalam ranah portofolio, dalam jangka pendek, Indonesia harus mempertimbangkan dengan kondisi perekonomian dunia. Bila perekonomian dunia masih bergejolak, akan ada kemungkinan outflow.

Baca Juga: BI: Net kewajiban posisi investasi internasional tumbuh di kuartal II-2019

Untuk mengantisipasi hal itu, Indonesia bisa lebih mempertimbangkan karakteristik investor. Lana mengimbau agar Indonesia lebih memperbanyak investor dari bank-bank sentral negara lain karena kebanyakan kemungkinan volatilitas lebih rendah.

"Sementara itu yang bisa kita lakukan. Utamakan karakteristik investor yang lebih long term," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×