Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah analis memprediksi kenaikan inflasi akan membatasi ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Sekedar mengingatkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28% mtm.
Secara tahunan atau year on year (YoY), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34%, meningkat dari 3,08% pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 1,79%, lebih tinggi dibandingkan posisi Mei yang sebesar 1,35%.
MNC Sekuritas melihat inflasi terutama didorong oleh kenaikan tarif transportasi menyusul penyesuaian harga bahan bakar dan harga tiket pesawat, serta inflasi harga makanan dan minuman. Peningkatan ini menunjukkan bahwa tekanan biaya domestik tetap relatif tinggi, meskipun inflasi masih dalam kisaran target Bank Indonesia.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Status UMKM untuk Driver Ojol, Ini Manfaatnya
“Kondisi ini berpotensi membatasi ruang untuk penurunan suku bunga dan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek tetap relatif tinggi,” ujar MNC Sekuritas dalam risetnya, Kamis (2/7/2026).
Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memperkirakan, inflasi akan tetap mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia selama beberapa bulan mendatang.
Inflasi jasa dan biaya transportasi kemungkinan akan tetap tinggi, sementara penerusan kenaikan harga produsen yang berkelanjutan akan menjaga inflasi inti tetap relatif stabil.
Meski demikian, melemahnya aktivitas manufaktur domestik, permintaan konsumen yang lebih lemah, dan melambatnya pesanan baru—seperti yang tercermin dalam kontraksi tajam pada PMI Manufaktur Juni—seharusnya membantu menahan tekanan inflasi yang lebih luas dan mencegah kelebihan inflasi yang berkelanjutan di luar kisaran target.
“Meskipun inflasi mungkin tetap terkendali selama sisa tahun ini, terutama karena penurunan harga energi, Bank Indonesia kemungkinan masih akan terpaksa melakukan pengetatan lebih lanjut untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed di masa mendatang,” ucap Harry Su.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














