kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.509   132,00   0,81%
  • IDX 7.771   -180,81   -2,27%
  • KOMPAS100 1.082   -24,22   -2,19%
  • LQ45 794   -17,88   -2,20%
  • ISSI 263   -5,59   -2,08%
  • IDX30 412   -9,22   -2,19%
  • IDXHIDIV20 479   -9,02   -1,85%
  • IDX80 119   -3,01   -2,46%
  • IDXV30 129   -3,65   -2,76%
  • IDXQ30 133   -2,74   -2,01%

Kemnaker berdayakan TKI purna agar tak balik lagi


Kamis, 26 Maret 2015 / 09:49 WIB
Kemnaker berdayakan TKI purna agar tak balik lagi
ILUSTRASI. Bersihkan parutan kini bisa dilakukan dengan mudah tanpa harus membuat tangan jadi terluka dan berdarah-darah (Prostock-studio/Shutterstock)


Reporter: Handoyo | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Pemerintah terus mengembangkan pendampingan dan pelatihan kewirausahaan di kantong-kantong TKI di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengiriman TKI sektor informal ke luar negeri.

Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan, pemberdayaan ekonomi calon TKI, TKI Purna, dan keluarga TKI menjadi salah satu prioritas pemerintah.  Sehingga nantinya para TKI purna yang sudah kembali ke Tanah Air bisa membuka lapangan kerja baru dan diharapkan tidak berniat lagi bekerja ke luar negeri. “Pelatihan kewirausahaan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam yang tersedia di sekitar daerah kantong TKI," kata Hanif.

Jenis-jenis pelatihan wirausaha yang dilakukan meliputi budidaya ayam, sapi dan kambing, usaha konveksi, menjahit dan border. Selain itu, ada juga pelatihan tata rias pengantin, tata boga, bengkel motor, sablon dan percetakan, pengelasan, konstruksi skala kecil, dll.

Pelatihan kewirausahaan yang dilakukan Kemnaker dilakukan dengan metode pengetahuan teknis, praktik kerja lapangan, pemberian modal usaha, proses pendampingan serta strategi pemasaran hasil usaha.

Hanif juga menghimbau agar para TKI maupun keluarganya dapat memanfaatkan uang hasil jerih payah dengan hal-hal produktif. Dana yang telah diperoleh tersebut jangan digunakan untuk keperluan yang tidak bisa dianggap penting dan mendesak.

“Lebih baik pergunakan uang hasil bekerja di luar negeri untuk modal kegiatan produktif dan wirausaha. Hindari belanja konsumtif berlebihan," kata Hanif. Menurutnya, dana TKI adalah dana segar yang bisa menggerakkan perekonomian masyarakat desa melalui kegiatan produktif. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×