Reporter: Ratih Waseso | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Adanya subvarian omicron BA.4 dan BA.5 menjadi bukti bahwa virus Covid-19 terus mengalami mutasi. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril menjelaskan, hal ini menjadi kondisi alamiah bagi sebuah virus untuk mempertahankan hidup.
Selama pandemi belum berakhir, tidak dapat dipastikan tidak akan ada varian baru atau subvarian baru. Namun, Syahril mengatakan yang dapat dilakukan masyarakat saat ini ialah waspada dengan adanya potensi lonjakan kembali, yakni dengan disiplin protokol kesehatan dan segera dapatkan vaksinasi booster.
"Bagi kita pertama tetap waspada melakukan pencegahan dan pengendalian, agar kita tidak terlalu banyak kasus dengan tertular itu. Kalaupun terjadi infeksi tidak terlalu berat sehingga hospitalisasi tidak terlalu tinggi dan tidak menaikkan angka kematian," kata Syahril dalam Forum Merdeka Barat 9, Kamis (16/6).
Baca Juga: Penyebaran Omicron BA.4 dan BA.5 Meluas, Kasus Covid-19 Global Masih Tren Menurun
Walaupun saat ini ada kenaikan kasus namun diprediksi tidak tinggi lonjakannya, Syahril meminta tetap adanya kewaspadaan di masyarakat. Sehingga apabila terjadi lonjakan namun tetap dapat menekan angka kematian dan hospitalisasi.
Masyarakat juga diminta untuk segera mendapatkan vaksinasi baik dosis lengkap satu dan dua, serta dosis ketiga (booster). Pasalnya booster akan membantu menambah modal imunitas masyarakat menghadapi potensi lonjakan kasus utamanya karena varian baru.
Syahril menerangkan, saat ini cakupan vaksinasi masyarakat umum dosis pertama mencapai 96% dan 82% untuk dosis kedua. Kemudian untuk vaksinasi anak usia 6-18 tahun sudah diatas 80%. Hanya saja untuk booster diakui masih di angka 23-24% dari target yang dicanangkan.
"Booster ini adalah bagian strategi upaya untuk memberikan penambahan dan penguatan imunitas antibodi yang ada. Jadi harapannya kita harus menggerakkan vaksinasi boster ini agar kita mencapai lebih dari 50%," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














