Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong penguatan produksi vaksin dan produk kesehatan dalam negeri sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan kesehatan nasional dan kawasan ASEAN menghadapi potensi pandemi di masa mendatang.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya setiap negara memiliki kemampuan mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakatnya. Saat pandemi terjadi, akses terhadap obat-obatan maupun vaksin dari negara lain menjadi terbatas akibat kebijakan penutupan wilayah atau lockdown.
"Kita memberikan masukan untuk negara besar seperti Indonesia, kalau ada pandemi lagi harus memiliki ekosistem obat-obatan dan vaksin yang kuat di negara ini untuk memenuhi kebutuhan 280 juta penduduk," ujar Budi di Jakarta, Rabu (24/6).
Baca Juga: DEN: ASEAN Perlu Bangun Rantai Pasok Vaksin Regional Sebelum Pandemi Berikutnya
Menurut dia, prinsip tersebut juga perlu diterapkan oleh negara-negara ASEAN dengan populasi besar seperti Vietnam, Filipina, Thailand, dan Myanmar. Budi menilai teknologi kesehatan, termasuk teknologi vaksin, seharusnya dapat dibagikan dan tidak dimonopoli oleh segelintir negara.
"Teknologi ini enggak harus dimonopoli, terutama di bidang kesehatan. Justru harus dibagi," katanya.
Budi menambahkan, negara-negara dengan jumlah penduduk besar perlu memiliki sistem pertahanan kesehatan yang mandiri. Dengan demikian, ketika terjadi pandemi, masing-masing negara memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan luar negeri.
Selain aspek ketahanan kesehatan, Kemenkes juga melihat pengembangan industri kesehatan domestik dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar. Menurut Budi, belanja kesehatan pemerintah saat ini telah mencapai lebih dari 10% dari total anggaran, bahkan mencapai sekitar 16% pada tahun ini.
Namun, manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan di dalam negeri karena sebagian besar produk kesehatan masih berasal dari impor.
"Sebagian besar masih impor. Jadi yang enjoy GDP growth dan job growth-nya itu di negara lain," ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan rantai pasok industri kesehatan dari hulu hingga hilir, termasuk untuk produk farmasi dan vaksin. Langkah tersebut diharapkan dapat mengubah belanja kesehatan menjadi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Budi mencontohkan kebutuhan berbagai produk kesehatan yang selama ini masih bergantung pada impor, termasuk produk turunan plasma darah. Padahal Indonesia memiliki sumber bahan baku yang besar karena jumlah penduduk yang tinggi.
Menurut dia, pengembangan industri kesehatan nasional membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari industri, perdagangan hingga investasi. Dengan penguatan kapasitas produksi dalam negeri, sektor kesehatan diharapkan dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman pandemi di masa depan.
Baca Juga: BPKH Didorong Lebih Independen untuk Optimalkan Investasi Dana Haji
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














