kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kasus Covid-19 Bisa Terus Naik, Berpotensi Lewati Puncak Varian Delta


Sabtu, 23 Juli 2022 / 14:31 WIB
Kasus Covid-19 Bisa Terus Naik, Berpotensi Lewati Puncak Varian Delta
ILUSTRASI. Pemerintah pun memprediksi puncak pandemi gelombang keempat Covid-19 akan terjadi pada akhir Juli 2022.


Sumber: Kompas.com | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus Covid-19 di Indonesia terus berada di atas level 3.000-an per hari. Bahkan kemarin, kasus baru Covid-19 mencapai 4.834 kasus baru.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman berpendapat, kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia yang terjadi beberapa waktu belakangan belum mencapai puncak. Dia memprediksi, angka kasus harian virus corona akan terus naik dalam beberapa minggu ke depan.

"Tampaknya potensinya masih dua minggu ke depan masih harus kita waspadai dan seperti yang saya sampaikan dalam beberapa kesempatan puncak itu kemungkinan besar bukan di akhir Juli," kata Dicky, Sabtu (23/7).

Baca Juga: Penambahan Vaksinasi Covid-19 Mencapai 99.911 Dosis per 22 Juli 2022

Dicky mengatakan, lamanya puncak kasus disebabkan karena karakter virus Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 yang bukan hanya bisa menginfeksi orang yang belum divaksinasi, tetapi juga yang sudah menerima vaksin. Bahkan, subvarian yang kini mendominasi kasus Covid-19 di tanah air ini juga menginfeksi ulang orang-orang yang sebelumnya sudah pernah terpapar virus corona.

Belum lagi, kini muncul subvarian Omicron baru yang disebut BA.2.75 atau Centaurus. Pesatnya mutasi varian virus ini diprediksi akan menyebabkan pandemi di tanah air bertahan lama setidaknya dalam 2-3 bulan ke depan.

"Dalam konteks Indonesia kita masih mengalami potensi kerawanan menurut saya sampai awal Oktober, atau setidaknya akhir September," ujar Dicky.

Baca Juga: Inilah 9 Gejala Omicron BA.4 & BA.5, serta 4 Gejala BA.275

Menurut Dicky, saat pandemi gelombang keempat nanti mencapai puncak, sangat mungkin jumlah kasus Covid-19 harian meledak, bahkan melewati jumlah kasus saat gelombang Delta. Sebabnya, Omicron subvarian BA.4, BA.5, dan BA.2.75 punya kemampuan menginfeksi berulang kali. Tapi, karena masyarakat sudah banyak yang divaksin, dia bilang, potensi angka kesakitan dan jumlah pasien meninggal kemungkinan kecil.

"Jadi gelombang yang saat ini kita hadapi adalah gelombang kasus infeksi yang akan banyak orang terinfeksi, tapi tidak semuanya masuk rumah sakit, tidak semuanya bergejala, bahkan mayoritas nggak bergejala, dan sedikit sekali bahkan yang mengalami kematian," terang Dicky.

Kendati demikian, Dicky mengatakan, masyarakat harus disiplin menerapkan protokol kesehatan memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kemungkinan. Vaksinasi booster juga harus dipercepat. Bahkan, kata dia, pemerintah harus mulai memikirkan vaksinasi dosis keempat.

Baca Juga: Hendak Terbang Menggunakan Pesawat, Ini Aturan Perjalanan Udara Terbaru

"Booster dosis keempat ini untuk melindungi orang-orang yang sudah lebih dari 3 bulan, 4 bulan yang lalu mendapatkan dosis ketiganya terutama di kelompok rawan atau beresiko baik dari sisi tubuh maupun dari sisi pekerjaan," kata Dicky.

Sebagaimana diketahui, situasi pandemi virus corona di Indonesia kembali mengalami eskalasi. Kasus harian tembus di angka 3.000, bahkan 5.000 kasus. Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 terbaru yang dirilis pada Jumat (22/7) memperlihatkan, kasus Covid-19 bertambah 4.834 dalam sehari.

Sementara, jumlah pasien meninggal mencapai 13 orang, dan yang sembuh sebanyak 3.363 orang. Dengan jumlah tersebut, kasus aktif mengalami peningkatan sebanyak 1.458 kasus sehingga total kini ada 38.239 kasus aktif di Indonesia. Pemerintah pun memprediksi puncak pandemi gelombang keempat ini akan terjadi pada akhir Juli 2022.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kasus Covid-19 Diprediksi Masih Akan Terus Naik, Berpotensi Lewati Puncak Varian Delta.
Penulis: Fitria Chusna Farisa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×