Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia pada tahun 2026 ini menyebabkan lebih dari 314.000 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Simak cara mengobati ISPA secara medis.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 314.124 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla hingga 20 Oktober 2026. Kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 65 kabupaten/kota.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan, dari total kasus tersebut, sebanyak 70.890 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun. Sementara itu, 243.234 kasus lainnya tercatat pada kelompok usia di atas 5 tahun.
Data yang disampaikan kepada Kompas.com pada Rabu (21/10/2026) tersebut juga mencatat 3.269 kasus ISPA baru pada 20 Oktober 2026.
Tingginya jumlah kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menjadi perhatian karena paparan asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
Baca Juga: Cegah Karhutla Lanjutan, BPGMN Targetkan Perbaikan 7.000 Sumur Bor hingga Tahun Depan
Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan catat kasus ISPA tertinggi
Berdasarkan data Kemenkes untuk periode 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan menjadi dua provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di antara wilayah yang dirinci dalam laporan.
Di Sumatera Selatan, tercatat 63.430 kasus ISPA pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 18.747 kasus pada anak berusia 0–5 tahun. Dengan demikian, total kasus di provinsi tersebut mencapai 82.177 kasus.
Kalimantan Selatan menyusul dengan 60.734 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 18.160 kasus pada anak berusia 0–5 tahun. Total kasus ISPA di provinsi ini mencapai 78.894 kasus.
Berikutnya, Kalimantan Barat mencatat 44.019 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 11.667 kasus pada kelompok usia 0–5 tahun, sehingga totalnya mencapai 55.686 kasus.
Sementara itu, Riau melaporkan 27.787 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 8.646 kasus pada anak berusia 0–5 tahun. Total kasus ISPA di provinsi tersebut mencapai 36.433 kasus.
Di Kalimantan Timur, jumlah kasus mencapai 20.706 pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 6.982 kasus pada kelompok usia 0–5 tahun. Totalnya sebanyak 27.688 kasus.
Adapun Kalimantan Tengah mencatat 21.607 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun dan 5.133 kasus pada kelompok usia 0–5 tahun. Dengan demikian, total kasus di provinsi tersebut mencapai 26.740 kasus.
Tonton: 6 Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, 7.531 Hektare Lahan Terbakar
Kasus ISPA lebih banyak tercatat pada perempuan
Selain berdasarkan kelompok usia, data Kemenkes juga memperlihatkan distribusi kasus ISPA menurut jenis kelamin. Di enam provinsi yang dirinci, jumlah kasus pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Di Sumatera Selatan, terdapat 44.099 kasus pada perempuan dan 38.078 kasus pada laki-laki. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 43.753 kasus pada perempuan dan 35.141 kasus pada laki-laki.
Pola serupa terlihat di Kalimantan Barat, dengan 29.848 kasus pada perempuan dan 25.838 kasus pada laki-laki.
Di Riau, kasus ISPA pada perempuan mencapai 19.195, sedangkan pada laki-laki sebanyak 17.238 kasus. Kalimantan Timur mencatat 14.980 kasus pada perempuan dan 12.708 kasus pada laki-laki.
Adapun di Kalimantan Tengah, terdapat 14.496 kasus pada perempuan dan 12.244 kasus pada laki-laki.
Meski data menunjukkan jumlah kasus pada perempuan lebih tinggi di enam provinsi tersebut, angka ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perempuan memiliki risiko ISPA lebih besar. Penilaian risiko membutuhkan informasi tambahan, termasuk jumlah penduduk pada masing-masing kelompok dan faktor paparan.
Data tersebut juga perlu dibaca secara cermat. Jumlah kasus ISPA yang dilaporkan di wilayah terdampak karhutla tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh asap kebakaran. Penetapan penyebab memerlukan analisis lebih lanjut mengenai paparan polusi udara dan faktor kesehatan lainnya.
Baca Juga: BNPB Buka Peluang Bantuan Asing untuk Tangani Karhutla
Cara mengobati ISPA
ISPA bisa diatasi melalui obat-obatan dari dokter dan menjaga pola hidup sehat selama di rumah. Berikut penjelasan lengkap cara mengobati ISPA dilansir dari website resmi RS Mitra Keluarga:
1. Mengonsumsi Obat
Dalam memberikan obat, dokter akan melihat kondisi pasien dan penyebab ISPA terlebih dulu. Jadi penanganan antara satu pasien dengan pasien lain bisa jadi berbeda.
Umumnya, rekomendasi pengobatan yang diberikan oleh dokter di antaranya adalah sebagai berikut:
- Mengonsumsi dekongestan
- Menggunakan nasal sprays
- Mengonsumsi obat demam dan pereda nyeri (contoh: paracetamol dan ibuprofen)
- Mengonsumsi antibiotik jika ISPA disebabkan oleh infeksi bakteri
- Mengonsumsi suplemen untuk memperkuat imunitas jika ISPA disebabkan oleh infeksi virus
Sebagai catatan, hindarilah mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis yang diberikan oleh dokter.
Selain itu, beberapa obat yang disebut di atas mungkin tidak cocok untuk bayi, anak kecil, dan wanita hamil. Maka dari itu, dokter juga dapat merekomendasikan pengobatan lain.
2. Hal yang dapat Dilakukan di Rumah
Di samping minum obat sesuai anjuran dokter, Sahabat MIKA juga bisa mempercepat pemulihan dengan melakukan beberapa hal berikut:
- Memperbanyak istirahat di rumah dan tidur yang cukup
- Banyak minum air putih untuk mengencerkan dahak
- Mengkonsumsi minuman lemon hangat atau olahan madu untuk melegakan tenggorokan
- Berkumur dengan air garam
- Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur dengan menggunakan bantal
Kapan Harus ke Dokter?
Gejala ISPA sering terjadi pada anak-anak. Jadi, Anda harus waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda berikut:
- Gejala semakin parah
- Sulit bernafas
- Batuk bercampur darah
- Batuk selama lebih dari tiga minggu
- Penurunan kesadaran
Sebagian artikel telah tayang di https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/22/062900665/kemenkes-catat-314.124-kasus-ispa-akibat-karhutla-ini-wilayah-dengan-kasus?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














