kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,71   -11,32   -1.32%
  • EMAS943.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.29%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Jokowi: Indonesia masih tertinggal dalam menangkap peluang ekspor


Jumat, 04 Desember 2020 / 15:51 WIB
Jokowi: Indonesia masih tertinggal dalam menangkap peluang ekspor
ILUSTRASI. Presiden Jokowi mengatakan, Indonesia belum memaksimalkan potensi pasar ekspor bahkan masih tertinggal dari negara lain.

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti kinerja ekspor Indonesia. Meski hingga Oktober 2020, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus US$ 17,07 miliar, Jokowi mengatakan, Indonesia belum memaksimalkan potensi pasar ekspor bahkan masih tertinggal dari negara lain.

"Kita tidak boleh cepat puas pada capaian saat ini [surplus neraca dagang], karena potensi pasar ekspor yang belum tergarap masih sangat besar. Kita juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain dalam menangkap peluang ekspor," ujar Jokowi, Jumat (4/12).

Padahal, menurut Jokowi, potensi ekspor produk Indonesia sangat besar, dilihat dari keragaman produk, komoditas, kreativitas hingga kualitas.

Dia pun menyebut berbagai komoditas Indonesia yang ekspornya masih tertinggal dari negara lain, padahal bisa diproduksi dalam jumlah besar di Indonesia.

Baca Juga: Jokowi tekankan peran BI genjot ekonomi di tengah pandemi Covid-19

Kopi misalnya. Menurut Jokowi, Indonesia merupakan produsen kopi nomor 4 terbesar di dunia pada 2019. Tetapi, ekspor kopi Indonesia berada di urutan 8, dikalahkan Brasil, Swiss, Jerman, Kolombia hingga Vietnam.

"Jadi potret kinerja ekspor kopi Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Vietnam yang pada tahun 2019 mencapai US$ 2,22 miliar, sedangkan kinerja ekspor kopi Indonesia tahun 2019 berada di angka US$ 883,12 juta," kata Jokowi.

Tak hanya kopi, Jokowi pun menyebut komoditas lain seperti garmen, home decoration, furniture hingga produk perikanan.

Jokowi menjabarkan, Indonesia yang merupakan produsen garmen terbesar ke-8 dunia, malah hanya menjadi eksportir garmen ke-22 terbesar di dunia. Indonesia pun berada di urutan ke-19 dalam hal ekspor home decoration, padahal menjadi produsen kayu ringan terbesar di dunia. Begitu pula dengan ekspor furniture dan perikanan yang hanya di peringkat ke-21 dan ke-13.

Melihat ini, Jokowi pun meminta adanya pembenahan ekosistem berusaha bagi eksportir. Menurutnya, persoalan yang menghambat ekspor harus diatasi mulai dari regulasi dan prosedur yang rumit akan disederhanakan dan dipangkas.

Tak hanya itu, dia juga meminta agar ada percepatan dalam  negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan negara-negara sebagai pasar ekspor Indonesia.

"Dan berbagai perjanjian perdagangan yang sudah ada segera dioptimalkan sambil terus mencari pasar-pasar baru di negara-negara non tradisional, sehingga pasar ekspor kita semakin luas," ujar Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi juga meminta agar atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) menjadi market  intelligence dalam mendorong ekspor. Dia juga meminta agar daya saing eksportir khususnya usaha kecil dan menengah ditingkatkan. Dia meminta agar pelatihan pada pelaku usaha kecil dilakukan supaya bisa memenuhi permintaan pembeli.

Jokowi menambahkan, ekspor bukan hanya untuk membantu para pelaku usaha untuk tumbuh dan menghasilkan lapangan kerja, tapi juga memperbaiki perekonomian nasional dari sisi menambah devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan.

 

Selanjutnya: Hadapi krisis, Jokowi minta lembaga-lembaga di Indonesia buang ego sektoral

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×