kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Jokowi dan Prabowo tidak masuk dalam survei LSI


Selasa, 22 Oktober 2013 / 17:58 WIB
ILUSTRASI. Berikut alasan mengapa warna netral cocok digunakan di rumah bergaya minimalis.


Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Gun Gun Heryanto menilai, ada aroma tendensius dalam hasil jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terkait istilah calon presiden wacana terhadap Jokowi dan Prabowo sehingga tidak perlu dimasukkan dalam survei.

"Saya melihat ini yang disebut dengan survei yang memiliki aroma tendensius. Lembaga survei ketika bicara general will, seharusnya menangkap kemudian memprediksikan, bukan dari awal membangun asumsi prematur," ujarnya dalam diskusi "Meneropong Independensi Survei Politik" di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Menurut Gun Gun, lembaga survei seharusnya melihat dan menampilkan tren opini yang muncul di masyarakat. Apalagi, tren tersebut sejak awal sudah kuat di masyarakat.

Ketika lembaga survei justru menghilangkan tren opini yang berkembang di masyarakat, akan muncul pertanyaan terkait hasil survei tersebut.

"Jadi, harusnya jangan malah dieliminasi, mereka ini harusnya dicompare dengan sosok lain. Ketika nama itu tidak muncul akan muncul pertanyaan, kenapa bisa dielaminir nama-nama yang justru punya elektabilitas tinggi," tuturnya.

Ia juga menganggap, penyebutan capres alternatif terhadap Jokowi dan Prabowo merupakan suatu hal yang terlalu terburu-buru dan tidak memiliki alasan kuat untuk dijadikan sebuah kesimpulan.

"Saya pikir amat prematur, ini kan masih proses on going, belum diumumkannya Jokowi kan bisa jadi itu adalah strategi. Bukan berarti tidak jadi capres," ujarnya.

Begitu juga dengan alasan penghapusan Prabowo dan dianggap sebagai capres wacana hanya karena Gerindra diprediksi tidak mampu meraih perolehan suara yang cukup untuk mengusung presiden.

Padahal, lanjut Gun Gun, sekali pun benar nanti Gerindra tidak berhasil meraih presidential threshold, masih ada peluang memajukan Prabowo dengan cara melakukan koalisi dengan partai lain.

"SBY itu demokrat hanya 7%, tapi bisa mengantarkan calonnya jadi presiden, kok Prabowo dibilang capres wacana," ujar Gun Gun. (tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×