kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Jakarta dan sekitarnya tak lagi diminati investor


Senin, 28 Oktober 2013 / 14:58 WIB
Jakarta dan sekitarnya tak lagi diminati investor
ILUSTRASI. Macbook Air M1.


Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Di tahun-tahun mendatang Jakarta, Karawang, Bekasi, dan Jawa Barat tak lagi menjadi daya tarik para investor untuk membangun industrinya.

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani menjelaskan, para investor akan beralih ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini karena kawasan tersebut mensyaratkan upah minimum provinsi yang tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

"Tren ke depan, kawasan ekonomi industri di luar Jawa akan berkembang. Yang di Jawa, pabrik akan berpindah. Jakarta, Karawang, tidak diminati karena UMP tinggi, dan risikonya juga tinggi," kata Aviliani di Jakarta, Senin (28/10/2013).

Untuk itu, pertumbuhan kawasan ekonomi industri di luar kawasan Jabodetabek bakal mendorong kebutuhan listrik yang semakin besar di daerah. Artinya, lanjut Aviliani PLN harus mengantisipasi kesesuaian antara pasokan dan permintaan. Padahal, cadangan listrik di Jawa hanya 30 persen.

Sementara itu, cadangan listrik jauh lebih minim di luar Jawa seperti Sumatera, yang hanya sekitar 15 persen.

Ditanya mengenai antisipasi atas pertumbuhan kawasan ekonomi industri di daerah, Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, untuk Jawa, perpindahan pabrik justru akan berdampak baik bagi PLN. Selama ini,sekitar 3.000 megawatt listrik tiap harinya mengalir dari Jawa Timur ke Jawa Barat, DKI dan Banten, pusat-pusat industri.

"Kalau Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa ditingkatkan industrinya, kondisinya bisa seimbang, bisa balance. Cadangannya tetap sama, karena persebarannya saja yang semakin merata," pungkas Nur. (Estu Suryowati/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×