kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Ini pilihan satu harga untuk BBM bersubsidi


Senin, 29 April 2013 / 12:09 WIB
ILUSTRASI. Warga berjalan sambil membawa payung saat hujan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (1/11/2021). Cuaca hari ini di Jabodetabek cerah berawan hingga hujan petir, menurut ramalan BMKG. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Rencana kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi konsep satu harga tampaknya akan menjadi pilihan pemerintah, ketimbang menetapkan dua harga. Pilihan harga BBM bersubsidi satu harga itu diperkirakan tak mencapai Rp 6.500 per liter.

Pilihan harga BBM bersubsidi itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, sebelum rapat kabinet terbatas yang akan digelar hari ini (29/4). "Jadi tidak mungkin Rp 6.500 (per liter), beberapa harganya nanti, kami masih hitung," ujar Jero Wacik, Senin (29/4).

Soal kemungkinan satu harga BBM bersubsidi itu, ada pada kisaran Rp 5.000 - Rp 6.000 per liter. Namun demikian, harga pastinya akan dimatangkan dalam rapat kabinet terbatas yang berlangsung di lingkungan Istana Negara.

Menurut Wacik, kelas menengah memang mengamini harga BBM bersubsidi naik menjadi Rp 6.500 per liter. Akan tetapi, kata politisi Demokrat itu, kenaikan harga BBM menjadi Rp 6.500 akan memberatkan kelas bawah. Maka itulah, Wacik mengaku mencari pilihan harga BBM bersubsidi di bawah harga Rp 6500 per liter. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×