kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Ini modus penerbitan faktur pajak fiktif


Senin, 07 April 2014 / 13:54 WIB
ILUSTRASI. Penurunan ekspor diproyeksi menyeret surplus neraca dagang Indonesia di bulan Otkober 2022


Reporter: Syarifah Nur Aida | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bekerja sama dengan Bareskrim Polri berhasil meringkus dalang penerbit faktur pajak fiktif berinisial Z pada Kamis (3/4) petang lalu. Pengungkapan kasus dimulai sejak 2010 saat anak buah Z yakni Soleh ditangkap atas tuduhan pemalsuan faktur tersebut. Dalam kurun waktu 2003 hingga 2010, aksi sindikasi tersebut diperkirakan merugikan segara sebesar Rp 247 miliar.

Direktur Intelijen dan Penyidikan DJP Yuli Kristiyono menyebut ada dua modus utama penerbitan faktur palsu yang dilakukan sindikat ini. Pertama, dibuat perusahaan fiktif lalu didaftarkan agar mendapat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) agar bisa menerbitkan faktur.

Kedua, ada pula pendirian perusahaan yang nyata dan kemudian menerbitkan faktur fiktif. "Mereka buat identitas palsu, fotonya juga orang lain, lalu mereka mencari pembeli, negosiasi harga dan jual fakturnya," papar Yuli.

Selain itu, ada pula modus mencatut nama perusahaan yang tak lagi beroperasi. Yuli menyebut hingga saat ini, ada sekitar seratus kasus pembuatan faktur pajak fiktif Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bekerja sama dengan Bareskrim Polri berhasil meringkus dalang penerbit faktur pajak fiktif berinisial Z pada Kamis (3/4) petang lalu.

Pengungkapan kasus dimulai sejak 2010 saat anak buah Z yakni Soleh ditangkap atas tuduhan pemalsuan faktur tersebut. Dalam kurun waktu 2003 hingga 2010, aksi sindikasi tersebut diperkirakan merugikan segara sebesar Rp 247 miliar.

Direktur Intelijen dan Penyidikan DJP Yuli Kristiyono menyebut ada dua modus utama penerbitan faktur palsu yang dilakukan sindikat ini. Pertama, dibuat perusahaan fiktif lalu didaftarkan agar mendapat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) agar bisa menerbitkan faktur.

Kedua, ada pula pendirian perusahaan yang nyata dan kemudian menerbitkan faktur fiktif. "Mereka buat identitas palsu, fotonya juga orang lain, lalu mereka mencari pembeli, negosiasi harga dan jual fakturnya," papar Yuli.

Selain itu, ada pula modus mencatut nama perusahaan yang tak lagi beroperasi. Yuli menyebut, ada sekitar seratus kasus pembuatan faktur pajak fiktif yang terjadi dalam kurun waktu 2008 hingga saat ini. Oknum perusahaan pembeli faktur fiktif bervariasi, bisa pucuk pimpinan tertinggi atau bawahan yang kemudian melaporkan nilai transaksi melebihi yang sesungguhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×