kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Indonesia tengah mempersiapkan misi observer konflik Kamboja-Thailand


Jumat, 25 Februari 2011 / 16:04 WIB
ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pemerintah Indonesia saat ini terus melakukan persiapan untuk misi observer (pantauan) sehubungan konfilik perbatasan antara negara Kamboja dan Thailand. Hal itu diungkapkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Michael Tane, dalam jumpa pers Jumat (25/2).

Menurutnya, diperlukan mekanisme yang jelas dalam misi observer tersebut, terutama terkait soal komposisi dan jumlah tim yang menjalankan misi ini. Sebagai gambarannya mayoritas tim adalah berasal dari personil TNI dan sebagiannya lagi dari Kemenlu.

Nantinya, tim ini akan menjalankan fungsi untuk peace keeping mission. Tak heran jika tim ini tidak dipersenjatai untuk menjaga gencatan senjata antara keduabelah negara tetangga ini tetap berlaku. "Ini yang terus dibahas tentu juga dengan Kamboja dan Thailand. Saya harapkan misi ini secepatnya berjalan," katanya.

Seperti diketahui, pada "Informal ASEAN Foreign Ministers' Meeting" beberapa waktu lalu kedua negara Kamboja-Thailand sepakat menunjuk Indonesia menjadi observer gencatan senjata di perbatasan mereka. Nantinya tim observer Indonesia dalam hal ini akan berada di kedua sisi perbatasan negara.

Hubungan di antara kedua negara tetangga itu tegang sejak candi Preah Vihear diberi kedudukan Warisan Dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli 2008. Pengadilan Dunia pada 1962 memutuskan Preah Vihear milik Kamboja, walaupun pintu masuk utamanya terletak di Thailand dan wilayah 4,6 kilometer persegi di sekitar candi itu diaku kedua pihak tersebut.

Ketegangan berkobar dalam beberapa pekan belakangan setelah penangkapan tujuh warga Thailand akibat masuk secara gelap ke Kamboja pada akhir Desember. Dua dari mereka dijatuhi hukuman penjara untuk aktivitas mata-mata, dalam perkara yang menyebabkan kemarahan di kalangan nasionalis Kaus Kuning. Sekitar 5.000 massa Kaus Kuning berkumpul di luar gedung pemerintah di Bangkok, Sabtu. Mereka menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva atas masalah itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×