kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Indonesia menyerukan Thailand dan Kamboja tahan diri


Senin, 07 Februari 2011 / 20:39 WIB
ILUSTRASI. Warga beraktivitas di tepi Danau Teluk Kenali, Jambi


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Indonesia selaku ketua ASEAN tahun ini menyerukan, agar Thailand dan Kamboja dapat menahan diri untuk tidak melakukan kontak senjata. Hal itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam konferensi pers di kantor Kepresidenan Senin (7/2).

Dirinya meminta agar kedua belah pihak negara bertetangga itu mencari solusi secara damai sesuai piagam ASEAN yang harus dijunjung tinggi. "Sebenarnya kejadian di antara kedua tentara bukan hanya sekali ini. Beberapa kali sudah terjadi, bahkan saya pribadi dua kali sudah dua pertemuan dengan kedua pimpinan pemerintahan," katanya

Hubungan di antara kedua negara tetangga itu tegang sejak candi Preah Vihear diberi kedudukan Warisan Dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli 2008. Pengadilan Dunia pada 1962 memutuskan Preah Vihear milik Kamboja, walaupun pintu masuk utamanya terletak di Thailand dan wilayah 4,6 kilometer persegi di sekitar candi itu diaku kedua pihak tersebut.

Kamboja menyatakan, dua tentara dan satu warganya tewas dalam pertempuran hari Jumat, sementara Thailand menyatakan warga desa di sisi perbatasannya juga meninggal. Satu tentara Thailand tewas dalam kelanjutan bakutembak singkat pada Sabtu pagi. Media di kedua negara itu menyatakan jumlah korban bisa jauh lebih tinggi, tetapi koran Thailand menyatakan, 64 tentara Kamboja tewas. Di seberang perbatasan, dilaporkan bahwa sedikitnya 30 tentara Thailand tewas.

Ribuan orang mengungsi saat desa dikosongkan di kedua sisi perbatasan itu ketika pertempuran meletus. Tapi Somsak Suwansujarit, gubernur propinsi perbatasan Thailand Sri Sa Ket, menyatakan warga sudah mulai kembali ke rumah mereka.

Ketegangan berkobar dalam beberapa pekan belakangan setelah penangkapan tujuh warga Thailand akibat masuk secara gelap ke Kamboja pada akhir Desember. Dua dari mereka dijatuhi hukuman penjara untuk aktivitas mata-mata, dalam perkara yang menyebabkan kemarahan di kalangan nasionalis Kaus Kuning. Sekitar 5.000 massa Kaus Kuning berkumpul di luar gedung pemerintah di Bangkok, Sabtu. Mereka menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva atas masalah itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×