kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Indonesia, Malaysia, Thailand sepakat kurangi ekspor demi mengangkat harga karet


Selasa, 26 Februari 2019 / 06:56 WIB
Indonesia, Malaysia, Thailand sepakat kurangi ekspor demi mengangkat harga karet


Reporter: Resya Nugraha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sedang berupaya untuk mengerek kembali harga karet yang tengah lesu. Saat ini harga karet terus mengalami penurunan hingga berada di kisaran US$ 1,45 per kilogram (kg). Padahal di tahun 2011, harga karet pernah berada di angka US$ 5 per kg.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan penurunan harga karet saat ini dipengaruhi dari bursa negara lain.

"Pembentukan harga karet alam langsung atau tidak langsung dipengaruhi bursa-bursa future market terutama di Shanghai, China, Jepang, di Singapura juga," ujarnya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (25/2).

Untuk mengatasi penurunan harga karet ini, pemerintah membuat tiga kebijakan dengan melakukan pertemuan tiga negara yang termasuk dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC), yaitu Thailand, Indonesia dan Malaysia di Thailand pada 22 Februari kemarin.

Salah satu keputusan dari tiga kebijakan yang disepakati ketiga negara yaitu dengan pengaturan jumlah ekspor karet. "Ketiga negara sepakat mengurangi ekspor sebesar antara 200 ribu hingga 300 ribu ton setahun," jelasnya.

Namun kebijakan ini merupakan keputusan jangka pendek. Dua kebijakan lainnya itu merupakan promosi pengembangan karet negara masing-masing dan replanting.

"Itu kebijakan jangka menengah itu baru 2-3 tahun lagi hasilnya kelihatan, jangka panjang 5-7 tahun lagi hasilnya baru kelihatan," tutur Darmin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×