Reporter: Nur Cholis | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Penyelenggaraan Indonesia Human Capital Business Summit (IHCBS) 2026 hari kedua yang digelar di NICE PIK, Jakarta pada Rabu 16 September 2026, menegaskan peran krusial sumber daya manusia (SDM) dan energi terbarukan sebagai kunci Indonesia memenangkan persaingan di era kecerdasan buatan (AI). Adaptasi teknologi masa depan dinilai tak optimal tanpa kolaborasi strategis antara manusia, teknologi, dan infrastruktur energi yang memadai.
Tak hanya itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap praktik terbaik pengembangan SDM di industri, IHCBS 2026 juga menganugerahkan penghargaan korporasi (Enterprise Award Categories) melalui tiga piala utama. Predikat National Workforce Employability Multiplier yang berfokus pada penguatan kompetensi, reskilling, upskilling, dan sertifikasi berhasil diraih oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.
Selanjutnya, PT Paragon Technology and Innovation memenangkan kategori Entrepreneurial Ecosystem Accelerator berkat kontribusinya dalam akselerasi wirausaha dan UMKM. Sementara itu, predikat Human-Centric Digital Productivity Pioneer atas keberhasilan peningkatan produktivitas lewat AI dan digitalisasi dengan mengutamakan pengalaman karyawan dianugerahkan kepada PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Ketua Steering Committee Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), Yunus Triyonggo menjelaskan keberlanjutan event IHCBS sebagai kegiatan para pengembang SDM perusahaan, baik nasional dan internasional serta perusahaan swasta maupun BUMN. IHCBS berkomitmen membangun SDM Indonesia melalui pemikiran dan ide dari diskusi dan relasi selama acara berlangsung.
"Inilah janji dan tekad kami untuk negeri ini. Kita akan bertemu kembali di perhelatan IHCBS tahun 2027 mendatang dengan ragam karya besar lainnya," pungkasnya.
"GNIK secara sadar menyatukan lebih dari 100 komunitas dan asosiasi HR se-Indonesia. Mengkompetensikan diri sendiri adalah keharusan, mengkompetensikan tim adalah kewajiban, dan mengkompetensikan pencari kerja hingga mahasiswa di luar sana adalah panggilan hati," sambung Yunus.
Investasi AI dan manusia 
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie menjelaskan, komputasi AI membutuhkan suplai energi masif. Indonesia pun memiliki suplai memadai untuk mendukung pertumbuhan tersebut melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
"Kalau kita melihat permintaan komputasi AI, kuncinya adalah energi. Apakah Indonesia bisa menyuplai energi untuk AI? Jawabannya sangat bisa. Kita memiliki lahan, air, serta potensi energi terbarukan luar biasa seperti hidro, panas bumi dengan cadangan terbesar kedua dunia, hingga potensi baru hidrogen alami," ungkap Stella.
Lebih lanjut, Stella mengingatkan investasi pada teknologi AI disertai dengan investasi pada manusia. Ia menepis kekhawatiran bahwa AI akan otomatis mengurangi kesempatan kerja secara drastis.
Jika dikelola dengan baik, AI memang dapat melakukan substitusi untuk tugas-tugas rutin terstandar, namun di saat yang sama mampu meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kecepatan kerja manusia. Bahkan, AI dapat menciptakan ekspansi kesempatan melalui terbukanya pekerjaan baru.
Oleh karena itu, transformasi AI harus dikelola secara produktif, adil, dan inklusif. Stella menyoroti strategi AI nasional harus mampu menjangkau UMKM, pekerja mandiri, wilayah daerah, dan terkhusus pekerja informal. Hal ini sangat krusial mengingat data BPS per Mei 2026 mencatat dari total 148,19 juta penduduk bekerja di Indonesia, mayoritas atau 59,30% (87,88 juta orang) terserap di sektor informal, sedangkan pekerja formal hanya berada di angka 40,70% (60,31 juta orang).
"Agar kita balik lagi bisa berkompetisi. Kita bisa main faktur di dunia AI yang eksponensial ini dengan tepat. Semoga konferensi yang kita lakukan pada saat ini membuka hati kita bahwa satu, kalau kita tidak melakukan sekarang, kita akan kalah," tegas Stella.
Sejalan dengan dinamika tersebut, Direktur Kontan Cipta Wahyana menekankan implementasi AI di korporasi harus bermuara pada peningkatan produktivitas yang berpusat pada manusia (human-centered productivity). Menurutnya, empat aspek harus berjalan beriringan yaitu rekayasa manusia, kolaborasi manusia dan AI, peninjauan ulang proses kerja organisasi, serta penguatan literasi SDM secara menyeluruh. Praktisnya, perusahaan bisa mulai memetakan masalah bisnis dan menyiapkan kapasitas lewat upskilling dan reskilling.
“Ini ide besar. Saya kira ini hal-hal nyata dan bisa diprediksi harus bisa kita lakukan, tergantung kondisi di perusahaan kita,” jelas Cipta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














