Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas pangan masih bertahan tinggi pada pekan kedua Maret 2026 di tengah periode Ramadan. Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah menyatakan stok pangan nasional dalam keadaan aman.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai memunculkan kekhawatiran baru karena berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan mendorong harga pangan semakin mahal.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia per Senin (9/3/2026) menunjukkan beberapa komoditas pangan masih berada pada level tinggi.
Harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp 85.500 per kilogram (kg). Sementara cabai merah besar berada di Rp 45.600 per kg dan cabai merah keriting Rp43.950 per kg.
Baca Juga: Harga BBM Non Subsidi Pertamina Naik per 1 Des 2025, Cek Harga Pertamax Terbaru
Harga daging ayam ras juga masih relatif tinggi di kisaran Rp 41.750 per kg. Sedangkan telur ayam ras tercatat Rp 33.200 per kg.
Untuk komoditas bumbu dapur, harga bawang merah berada di Rp 44.800 per kg dan bawang putih Rp 40.850 per kg. Minyak goreng curah tercatat Rp 19.250 per liter, sementara minyak goreng kemasan bermerek I Rp 22.850 per liter dan kemasan bermerek II Rp 22.050 per liter.
Sementara itu, harga beras masih bertahan di kisaran Rp14.500 per kg untuk kualitas bawah. Beras kualitas medium berada pada rentang Rp15.800–Rp15.900 per kg dan beras premium Rp16.700–Rp17.250 per kg. Adapun gula pasir premium tercatat Rp20.100 per kg dan gula pasir lokal Rp18.750 per kg.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan harga ayam ras yang masih tinggi dipengaruhi sejumlah faktor, terutama distribusi dan keterbatasan pasokan bibit ayam atau day old chick (DOC) di tingkat peternak.
“Ada persoalan distribusi dan keterbatasan bibit ayam di peternak, sehingga harga masih tinggi. Pemerintah perlu menurunkan satgas agar harga tetap terkendali,” kata Ngadiran.
Baca Juga: Kabar Baik Awal 2026, Harga BBM Non Subsidi di Pertamina, BP, Shell, Vivo Turun
Ia juga menilai rantai distribusi pangan masih menyimpan praktik lama yang berpotensi memicu permainan harga di pasar.
Di sisi lain, kenaikan harga cabai rawit merah dipicu faktor cuaca. Curah hujan tinggi membuat sebagian petani menunda panen karena khawatir kualitas cabai menurun jika dipanen saat kondisi terlalu basah.
Meski harga sejumlah komoditas masih tinggi, pemerintah memastikan pasokan pangan nasional tetap aman. Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan pokok.
“Stok pangan saat ini cukup. Masyarakat tidak perlu panic buying karena pembelian berlebihan justru bisa mengganggu distribusi,” ujarnya.
Pemerintah, kata dia, terus menjaga stabilitas pasokan melalui berbagai program, salah satunya Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di berbagai daerah.
Namun di tengah kondisi tersebut, tekanan harga pangan berpotensi meningkat seiring kenaikan harga energi. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai kenaikan harga energi hampir selalu diikuti kenaikan harga pangan karena biaya produksi dan distribusi ikut meningkat.
Baca Juga: Harga Pangan Merangkak Naik Menjelang Ramadan
“Kalau harga energi naik, biasanya harga pangan ikut terdorong naik karena biaya logistik dan produksi meningkat,” ujar Tauhid.
Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya distribusi dari sentra produksi ke pasar. Dampaknya akan lebih terasa pada komoditas yang masih bergantung pada impor seperti kedelai, bawang putih, sebagian gula, serta beberapa jenis beras.
Selain faktor energi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga berpotensi menambah tekanan harga pangan karena biaya pengadaan barang impor menjadi lebih mahal.
Di tengah ketidakpastian global, Tauhid menilai pemerintah perlu memperkuat strategi pengamanan pasokan pangan, termasuk melakukan diversifikasi sumber impor bagi komoditas yang masih bergantung pada pasar luar negeri.
Baca Juga: Harga Pangan Mulai Merangkak Naik Menjelang Ramadan
Tanpa langkah antisipasi tersebut, tekanan harga pangan berisiko mendorong inflasi lebih tinggi dan menekan daya beli masyarakat, terutama pada masa Ramadan hingga menjelang Idulfitri ketika permintaan pangan biasanya meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












