kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Genjot Ekspor, Kemendag Harap Automatic Adjustment Dicabut Pertengahan Tahun 2024


Selasa, 20 Februari 2024 / 14:53 WIB
Genjot Ekspor, Kemendag Harap Automatic Adjustment Dicabut Pertengahan Tahun 2024
Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi di sela Raker Kemendag di Semarang, Selasa (20/2/2024).


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi berharap kebijakan automatic adjusment atau pemblokiran sementara anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) dapat segera dicabut untuk genjot kinerja ekspor. 

Didi mengakui bahwa pemblokiran anggaran ini menjadi salah satu penghambat kinerja ekspor komoditas ke depan. Pasalnya, untuk menembus pasar global pihaknya memerlukan dukungan anggaran yang ideal. 

"Karena untuk memasarkan produk ke luar negeri, kita harus ikut pameran, misi dagang yang memberikan kesempatan kita untuk memasarkan produk Indonesia," kata Didi dijumpai di sela-sera, Raker Kemendag 2024 di Semarang, Selasa (20/2). 

Baca Juga: Buka Raker, Mendag Pamer Capaian Surplus Neraca Perdagangan Selama 45 Bulan

Didi juga mengatakan bahwa tanpa kebijakan pemblokiran saja, sebetulnya anggaran untuk menggenjot ekspor masih jauh dari ideal. Hanya saja, anggaran tersebut sudah dirancang sejak tahun 2023, sehingga pihaknya dapat melakukan penyesuaian program. 

"Anggaran itu kan sudah dirancang di 2023 tapi ada automatic adjustment jadi (ekspor) terkena, mudah mudahan (automatic adjustment) bisa dibuka lagi pertengan tahun," ungkap Didi. 

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengakui bahwa kinerja ekspor ke beberapa negara yang masih belum maksimal. 

Baca Juga: Kemendag Dorong Pemahaman Trade Remedies Guna Perlindungan Usaha Dalam Negeri

Dia mencontohkan kinerja ekpor non migas ke Afrika dan Amerika Latin yang masih stagnan. Pada tahun 2023 kinerja ekspor non migas ke Afrika hanya mencapai US$ 5,55 miliar sementara Amerika Latin hanya mencapai US$ 2,57 miliar. 

"Untuk Afrika dan Amerika latin, ekspor Indonesia masih stagnan. Ini pak Djatmiko dan kawan-kawan perlu kesungguhan kita untuk fokus ke daerah-daerah yang belum berkembang," jelas Zulkifli. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×