kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

GAPKI : Bea keluar CPO terlalu tinggi, harga migor jadi tidak stabil


Senin, 14 Februari 2011 / 22:36 WIB
ILUSTRASI. Aplikasi Jenius dari BTPN


Reporter: Mohamad Jumasri | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menginginkan bea keluar CPO diturunkan. Menurut Direktur Eksekutif GAPKI Fadhil Hasan, penurunan bea keluar ini bertujuan agar minyak goreng di dalam negeri stabil.

"Sekarang ini bea keluar yang diterapkan oleh pemerintah sangat tinggi, oleh karena itu harga minyak goreng tidak stabil," ujarnya, Selasa (14/2).

Fadhil menambahkan, sebenarnya di dalam UU No. 17 tahun 2006 tentang kepabeanan dan juga Peraturan Pemerintah No. 5 ayat (1) tentang penggunaan bea keluar terhadap barang ekspor, ada empat yang harus ditetapkan oleh pemerintah.

Pertama, menjamin dan terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. Kedua, melindungi kelestarian sumber daya alam yang tidak merusak ekosistem yang terjadi, jika dibuat perkebunan kelapa sawit.

Ketiga, mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tentunya di pasaran internasional. “Hal ini yang seharusnya menjadi acuan pemerintah untuk dapat menurunkan bea keluar," tuturnya. Keempat, menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri.

Informasi yang diberikan, bahwa pada November 2010 Bea keluar mencapai 10%. Padahal pada Oktober 2010 bea keluar untuk CPO hanya sekitar 7,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×