kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

DPR : Ekspor CPO harus dikurangi agar harga minyak sayur stabil


Jumat, 11 Februari 2011 / 12:20 WIB
ILUSTRASI. Emas batangan Antam


Reporter: Mohamad Jumasri |

JAKARTA. Kenaikan harga minyak goreng membuat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menduga, minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan Indonesia selama ini hanya untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Menurut DPR, seharusnya produsen CPO mengutamakan kebutuhan dalam negeri sebelum melakukan ekspor.

"Ironis, kita penghasil kelapa sawit terbesar di dunia tapi tak bisa membendung kenaikan harga minyak," ujar Akhmad Muqowam, Ketua Komisi IV DPR saat dihubungi KONTAN, Jumat (11/2).

Akhmad menegaskan, pemerintah harus berani memerintah produsen mengurangi angka ekspor CPO agar harga minyak goreng dalam negeri bisa stabil.

“Harga minyak sayur akan semakin tinggi jika produsen melakukan ekspor CPO keluar negeri secara besar-besaran,” ujarnya.

Akhmad menyarankan, demi menjaga ketahanan pangan dalam negeri, seharusnya pemerintah melakukan pembenahan regulasi yang ketat terhadap ekspor terutama terhadap CPO ini. “Percuma mengejar pertumbuhan ekspor kalau kondisi di dalam negeri menderita,” tutur dia.

Saat ini, harga minyak sayur curah di pasar mencapai Rp 11.256 naik 5% sejak awal Januari 2011. Harga minyak bermerek ukuran 620 Mililiter (ml) mencapai Rp 9.135 naik 5,3% sejak awal Januari tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×