Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan melambat ke kisaran 5% hingga 5,2% secara tahunan (YoY).
Perlambatan konsumsi, investasi, serta dampak bencana terhadap aktivitas ekonomi daerah menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,15%-5,2% pada Juli-September 2026. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang mencapai 5,29%.
Baca Juga: Siap-Siap! KKP Ajukan 116 Formasi CPNS, Untuk Syahbandar Hingga Kampung Nelayan
Menurut David, ekspor dan aktivitas manufaktur masih menjadi penopang pertumbuhan. Namun, konsumsi rumah tangga maupun pemerintah menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menilai konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi penggerak utama ekonomi pada kuartal III-2026.
Perbaikan aktivitas manufaktur tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang naik ke level 52,4 pada September 2026, dari 49,8 pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa perbaikan dalam satu bulan belum cukup untuk memastikan penguatan aktivitas manufaktur sepanjang kuartal.
Baca Juga: Destry di KSSK Paparkan Bauran Kebijakan BI Jaga Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi
Di sisi lain, bencana yang terjadi di sejumlah wilayah berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi, perdagangan, hingga pariwisata di daerah terdampak.
Besarnya pengaruh terhadap ekonomi nasional akan bergantung pada skala dan lamanya gangguan.
Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23% pada kuartal III-2026.
Menurutnya, perlambatan tersebut masih terbatas dan belum mencerminkan pelemahan aktivitas ekonomi secara menyeluruh.
Josua memperkirakan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,13%, sedikit lebih tinggi dibandingkan 5,06% pada kuartal II-2026.
Namun, pemulihan daya beli belum merata, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang masih menghadapi tekanan harga pangan dan biaya hidup.
Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah diperkirakan melambat dari 15,97% menjadi 9,98%. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga diproyeksikan turun dari 6,87% menjadi 5,59%.
Baca Juga: Kasus Penyadapan Prabowo, Yusril Tegaskan Penahanan Jenderal Listyo Sesuai Hukum
"Kami melihat perekonomian masih cukup tangguh untuk tumbuh di atas 5%, tetapi sumber pertumbuhannya semakin tidak merata," ujar Josua.
Terkait dampak bencana, Josua menilai pengaruhnya terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional masih relatif terbatas karena aktivitas manufaktur, konstruksi, dan investasi di sejumlah wilayah tetap berjalan.
Namun, gangguan berkepanjangan berpotensi menekan produksi pangan, pendapatan masyarakat daerah, serta meningkatkan biaya distribusi.
Baca Juga: Suahasil di KSSK:Ekonomi Global Melambat, APBN Jaga Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi RI
Karena itu, Josua menekankan pentingnya percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak.
Pemerintah juga perlu menjaga kelancaran distribusi pangan serta memastikan belanja dan bantuan sosial lebih tepat sasaran untuk melindungi daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













